SENDIRI DULU (empat puluh tujuh)

 


SENDIRI DULU (empat puluh tujuh)

BLOG NURLAELI UMAR- Sudah tiga minggu Haris gak menemui Tifa, terasa ada yang hilang. Awalnya enggan untuk menanyakan, takut mengganggu. Tapi lama-lama Tifa gak bisa menahannya.

Diambilnya handphone dari atas tumpukan buku paket di atas meja belajarnya. Tifa meneka nomon Haris. Panggilannya terhubung.

“Halo, ini Tifa, bisa dengan Haris?”

“Oh, gak ingin tahu kabar loe aja.”

“Gue baik, kok lama gak kelihatan?”

“Kangen? Gak, cuma aneh aja, biasanya loe nongol di depan kampus.”

“Masa, tapi gue gak pernah lihat.’’

“Oh, jadi sekarang loe ngelesin Liana?”

“Oke, gak apa-apa, met sore, Ris.”

Ini firasat itu? Tifa gak tahu, tapi mengapa tiba-tiba semua berbau Liana? Perut Tifa terasa mulas. Tifa pergi keluar kamar menuju kamar mandi, dilihat olehnya mama, ayah dan kakak perempuannya sedang bercengkrama. Dia mengangguk-angguk, mulas di perutnya tiba-tiba hilang.

“Tifa …, jangan di kamar terus! Jangan berkutat sama buku terus, kemari anak Ayah!”

Tifa mendekat lalu memberi tanda dengan senyum manisnya agar kakak perempuannya menyingkir dari dekat ayahnya.

“Sebenarnya sih, mending kamu di kamar terus. Enak, dapat jatah kudapan sore dan teh hangat dobel.”

Tifa mencubit paha kakaknya yang belum beringsut. Kakak Tifa balas mencubit pipi Tifa yang mengaduh sambil mengelus-elus pipinya.

“Iya, dasar anak Ayah, tapi terimakasih udah dipinjemin selama ini, selama kejuaraan taekwondo sama  olympiade. Seharusnya tiap hari aja ada kegiatannya.”

“Masa aku dibilang berkubang, Yah.”

Muka melas Tifa yang ditujukan kepada ayahnya sebagai rajukan membuat ketiga orang tercintanya melebarkan senyum.

“Bagaimana tentang sekolahmu, selain kejuaraan yang berhasil dan lolos seleksi itu? Apa anak Mama sekarang sedang jatuh cinta?”

Tifa mencomot pisang goreng kemudian menyeruput teh manis hangat yang baru dituanganya dari poci.

“Kok Mama nanya gitu, memang ada apa-apanya, ya?” tanya kakak perempuan Tifa.

“Enggak kok, mana ada” kilah Tifa.

“Lho yang ditanya Mama, kok?” balas kakaknya.



 

Komentar