SENDIRI DULU (empat puluh)

 

EMPAT PULUH

BLOG NURLAELI UMAR- Kontan saja tangan Tifa menjitak kepala Randi. “ Udah sadar?”

“Yah, payah. Tapi makasih. Kita pulang bareng kan?”

“Gak, gue ada yang jemput.”

“Tio?”

“Bukan, tapi Haris.”

Randi gak bereaksi, dia diam dan terus berjalan menemani langkah-langkah Tifa berjalan ke luar kelas menelusuri koridor dan akhirnya berpisah, karena Randi harus ke tempat parkir mengambil motor.

“Gue duluan, Rand. Bye!”

“Iya, hati-hati!”

***

Pagi dengan semangat dan doa yang memenuhi dada, meski kemarin Randi gak bisa mengantar Tifa karena sahabatnya itu sudah ada janji dengan Haris. Tapi pagi ini senyum di wajah Randi mengembang, dan Tifa ada di dekatnya sambil memeluk papan jalan yang mau dipakai buat alas menulis.

“Hei. Tif, Rand!” Haris menyapa di tengah kerumunan, suasana ramai, tapi peserta lain yang datang sepertinya sudah memakai baju persaingan semenjak awal, waktu pertandingan bahkan belum dimulai.

Tifa dan Randi balas menyapa dengan: hai! Haris pun tahu menepatkan diri, menyapa sekilas terus menjauh, bergabung dengan teman satu tim-nya.

“Loe siap Tif? Gue rasa gue siap.”

Sambil berbisik Tifa berbicara,” Loe mau nanya gue atau mau ngasih tahu kesiapan loe? Yang mana yang mesti gue tanggapi.”

Randi melotot, Tifa tertawa ditahan. “Lagian santai saja, sedikit bercanda biar gak stress!”

“Iya bener juga loe, biar energi kita gak terkuras sebelum perang!”

“Tapi gak usah sesemangat itu juga kali, biasa aja!’

“Bukan, tapi Haris.”

Randi gak bereaksi, dia diam dan terus berjalan menemani langkah-langkah Tifa berjalan ke luar kelas menelusuri koridor dan akhirnya berpisah, karena Randi harus ke tempat parkir mengambil motor.

“Gue duluan, Rand. Bye!”

“Iya, hati-hati!”

***


Pagi dengan semangat dan doa yang memenuhi dada, meski kemarin Randi gak bisa mengantar Tifa karena sahabatnya itu sudah ada janji dengan Haris. Tapi pagi ini senyum di wajah Randi mengembang, dan Tifa ada di dekatnya sambil memeluk papan jalan yang mau dipakai buat alas menulis.

“Hei. Tif, Rand!” Haris menyapa di tengah kerumunan, suasana ramai, tapi peserta lain yang datang sepertinya sudah memakai baju persaingan semenjak awal, waktu pertandingan bahkan belum dimulai.

Tifa dan Randi balas menyapa dengan: hai! Haris pun tahu menepatkan diri, menyapa sekilas terus menjauh, bergabung dengan teman satu tim-nya.

“Loe siap Tif? Gue rasa gue siap.”

Sambil berbisik Tifa berbicara,” Loe mau nanya gue atau mau ngasih tahu kesiapan loe? Yang mana yang mesti gue tanggapi.”



Randi melotot, Tifa tertawa ditahan. “Lagian santai saja, sedikit bercanda biar gak stress!”

“Iya bener juga loe, biar energi kita gak terkuras sebelum perang!”

“Tapi gak usah sesemangat itu juga kali, biasa aja!’



Komentar