SENDIRI DULU (lima puluh satu)

 

https://id.pinterest.com/pin/3940718418923659/

SENDIRI DULU (lima puluh satu)

BLOG NURLAELI UMAR- “Jadi mau pulang bareng gue ‘kan? Loe lihat Tio bukan nungguin loe, tapi Liana. Tuh!”

Mata Tifa memicing ke arah yang ditunjuk oleh telunjuk Randi. Sejak kapan Liana ikut aerobik di taman ini? Dia terlihat memakai baju senam. Jangan-jangan sudah lama cuma dirinya saja yang gak tahu. Tifa mengangguk-angguk merasa lucu saja.

Benar kata Angga, Liana ada sesuatu dengan dirinya. Tifa memerhatikan Tio yang setengan malas bercakap dengan Liana. Tifa tahu Tio kurang berselera, karena dia tetap duduk di atas motornya.

Tapi … Liana sepertinya melakukan sebuah aksi. Dia duduk di belakang Tio dan melingkarkan tangan ke pinggang Tio. Sekilas kemudian Tio melihat ke arah Tifa dan Randi. Entah keberanian dari mana Tifa mengacungkan jempolnya.

***

“Tif!” Randi setengah berteriak.

“Kenapa, Rand?” jawab Tifa enteng seolah dia gak melakukan apa-apa.

“Loe gak lihat apa?”

“Lihat apa?”

“Ekspresi Tio, dari sini terbaca dia marah. Lihat sekarang Tio benar-benar pergi bareng Liana.”

“Biarin, loe masih mau ngajakin gue pulang gak? Kalau enggak ya udah gue pulang sendiri.”

“Maksud gue gak gitu caranya. Semua orang tahu kalau Tio datang buat loe.

Tifa tersenyum tapi senyum itu terbaca tawar. Dia berjalan pulang setelah sebelumnya berpamitan ke toilet untuk ganti baju. Randi mengejar Tifa dan menawarkan diri lagi untuk mengantar pulang.

“Gue mau ke toko buku, udah izin sama Mama.”

“Ayo naik, gue anterin, sekalian gue mau nraktir ice cream.”

Sepanjang perjalanan Tifa memeras otak, bahkan ketika Randi mengajaknya berbicara dia memberi tanda jika dia gak ingin ngomong lebih. Kepalanya sibuk sama tingkah Liana.

“Oke Tuan Putri, gue akan diam,” gumam Randi pelan.

***

Sebuah buku sudah dibayar di kasir, Randi mengajak ke kedai ice cream. Untung ada bangku kosong, karena tadi terlihat ramai.

“Ini cokelat semua.”

“Makasih Rand.”

“Loe tadi keterlaluan Tif. Tio pasti sakit hati.”

“Kalau benar dia memang datang buat gue, dia gak akan bawa itu Liana.”

“Tapi loe gila, jempol loe itu ide dari mana?”

“Gue senior loe.”

“Jadi maksud loe?”

“Meski gue diem, gue gak sebego itu dipermainankan. Gue bukan bidak, tapi gue pemain.”

Randi paham banget, Tifa gak bodoh. Tapi bagaimana tetap tenang? Padahal kalau kejadian tadi kena cewek lain mungkin Tio akan dihabisi saat itu juga, atau sebaliknya berlari pulang dan menangis sejadi-jadinya.



Komentar