SENDIRI DULU (lima puluh)








SENDIRI DULU (lima puluh))

BLOG NURLAELI UMAR- Tifa memberi aba-aba kepada yang lain untuk memulai pemanasan, sambil menunggu sabeum lain bergabung, kali ini jadwal Tifa melatih. Tifa tampak semangat sekali, beberapa yang baru datang melapor keterlambatannya pada sabeum atau senior mereka, berdoa lalu meminta petunjuk apa yang tertinggal dari mereka saat pemanasan.


Jadi, yang datang lebih awal atau yang terlambat mendapat jatah yang sama atau ditambahkan sedikit hukuman.

Latihan terkadang dibuat seperti sebuah permainan. Hal itu dilakukan agar latihan gak monoton.


Tamu dari dojang lain sudah datang beramah-tamah, latihan dimulai. Tifa dan sabeum tamu bergantian memimpin. Setelah pemanasan dan latihan inti sekarang semua berkumpul membentuk lingkaran.


Materi permainan yang diberikan adah beradu kelenturan dan kesempurnaan gerakan. Sabeum mencontohkan tendangan Dollyo Chagi. Taekwondoin harus melakukannya dengan arah dari sisi lingkaran tempat mereka berdiri menuju titik pusat. Tendangan diarahkan ke sabeum yang menjadi titik sasaran.


Suasana ramai sekali, meriah. Apa lagi jika sabeum memberikan skor atas gerakan yang dicontohkan, lalu memberi sedikit perlawanan. Jika peserta datang dari empat arah mata angin, latihan akan semakin seru, karena perlawanan sabeum terpecah kepada empat penyerang.


 Dari situ para Taekwondoin tahu bagaimana bentuk nyata dari gerakan yang diajarkan tanpa merasa sedang fokus belajar. Belum lagi persaingan membawa nama dojang yang akan memberi semangat tersendiri.


Latihan mendapatkan istirahat sekitar sepuluh menit. Setelah itu latihan lagi sampai agak siang. Selama istirahat dan berlatih, Tio setia menunggu di pinggir lapangan. Tifa membiarkan, sama sekali gak mendekat.

“Tadi loe datang bareng Tio?” Randi bertanya karena dia melihat kehaditan Tio.


“Ka”

“Ini udah selesai latihan, Seonbae.”

Tifa tertawa ngakak, yang lain yang bersiap pulang memalingkan muka ke arahnya. Seseorang berteriak dari bawah pohon. “Kenapa, Kak?”


Tifa menjawab dengan melambaikan tangannya memberi tahu semua baik-baik saja. Randi mendelikan matanya. Dia tahu dia dikerjai Tifa.

“Jalan kaki sendiri.”

“Pulang sama gue?”


“Tio gimana?”

“Emang balikan lagi sama dia?”

“Gak sih, cuma kasihan tadi dia nyamper ke rumah.”

“Dan loe nolak?”

“Bukan, gue hampir nyampe sini waktu dia nyamperin.”


Image; https://id.pinterest.com/pin/300967187620174077/



 

Komentar