SENDIRI DULU (tiga puluh dua)

 

TIGA PULUH DUA

BLOG NURLAELI UMAR- Sudah hampir tiga bulan Tifa menghindari Tio, entah keberanian apa yang membuat cowok itu mendekati Tifa lagi. Malam itu, Tifa sudah menjelaskan lewat chat-nya bahwa dia ingin menyudahi kedekatan mereka berdua. Alasannya pun jelas, bahwa dia gak bisa menahan cemburu terus menerus.

“Mungkin aku gak bisa lari kali ini, Tuhan, andai ini harus terjadi, please bantu hamba-Mu ini untuk tidak kembali lagi. Kecuali jika ini maumu dan hubungan itu sebatas sahabat saja, gak lebih,” keluh Tifa lirih.

Meski dengan konsentrasi yang sedikit terbelah, dan untung saja gak menarik perhatian jadi gak ada cecaran pertanyaan, pelajaran terakhir bisa diikuti sampai bel berbunyi. Dan ini berarti Tio sedang menunggu, di tempat biasa, pintu gerbang.

Tifa berjalan santai, suasana ramai banget, maklum semua ingin keluar dari pintu gerbang yang sama. Biasanya dia memilih menunggu di bawah pohon dekat parkiran sampai lautan manusia sedikit surut. Tapi gak kali ini, kakinya enggan berhenti. Sebagian alasan agar dia tersamar dan gak dikenali jika berdesakan di pintu gerbang, dan itu memudahkan buat dia melenggang pulang.

“Naik! Gak ada janji sama yang lain,’kan?”

Tifa gak menjawab, dia langsung duduk di belakang Angga. Dia melihat Tio benar-benar lagi nunggu, tapi …dia sibuk bicara sama … ups! Dia itu Liana. Aneh benar cewek satu itu. Apa bareng pulang yang diminta Tio ini buat ngejelasin kalau dia sudah benar-benar lupa gue?

“Baiklah, gue pun akan melupakan semuanya segera setelah ini!”

“Bicara sama siapa, Tif. Emang gue salah apa?” tanya Angga sambil menengok ke belakang.

“Udah, jalan aja, apa mesti gue yang di depan?”

“Oke, deh. Gak usah. Tapi ….”

“Tapi apa?”

“Boleh gak peluk gue dikit?”

“Semprul loe, gue turun nih!”

Angga tertawa, mesin dihidupkan dan mereka benar-benar melewati pintu gerbang. Tio melihat semuanya, dia berusaha memanggil, tapi tangan Liana menarik tangannya..


Komentar