SENDIRI DULU (tiga puluh empat)

 



TIGA PULUH EMPAT

BLOG NURLAELI UMAR- Tifa mengangguk sambil tersenyum. Tapi isengnya kumat, dia memeletkan lidahnya. Angga balas tersenyum, tapi urusannya masih ada dan mesti pergi, mungkin kali lain dia akan menjewer gadis itu buat membalas ledekannya.

“Oke. Gue duluan ya?” Tifa berpamitan untuk masuk.

Di langkah ke tiga Tifa meninggalkan Angga yang masih di atas motor, “Tif, gue boleh minta sesuatu?”

“Minta apa tuh?”

“Loe hati-hati sama Liana.”

“Memang anak perempuan itu kenapa, Ngga?”

Angga pergi sambil mengedikkan pundaknya. Kaca helm ditutup dan motor pergi sambil meraung, berlari cepat dan berbaur dengan kendaraan lain. Setelah benar-benar hilang dari pandangan mata gadis itu berpikir sebentar sebelum akhirnya menutu pintu pagar rumahnya.

Tapi, tetap dia gak mengerti ucapan Angga. Liana? Hmmm, apa ini karena kemarin di pertandingan kejuaraan itu dan kejadian baru saja di pintu gerbang? Kenapa harus berhati-hati?

Kenapa dengan Angga, kenapa dia nyuruh gue hati-hati tentang Haris tempo hari dan Liana kali ini? Firasat yang dulu apa ada hubungannya dengan mereka? Apa Angga punya alasan? Tapi sejauh ini Angga belum cerita apa pun tentang Haris dan Liana.

“Anak gadis bukannya masuk dan memberi salam, malah semedi di halaman!”

“Assalamualaikum, Ma. Iya nih, aku bingung kenapa anak mama yang ini cantik sekali.”

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Sampai setinggi itu kadar narsis anak Mama? Tapi baiklah, ayo masuk, Mama sudah siapkan makanan kesukaanmu supaya kadar narsis itu tidak membuat anak Mama menjadi alien.”

Tifa mencium punggung tangan mamanya lalu memeluk manja setengah bergelayut di pundak dari belakang. Mama memencet hidung Tifa untuk menghentikan aksinya, karena sekarang anak gadisnya sudah bukan Tifa yang dulu, sekarang menjadi lebih berat meski masih langsing, tentu saja.


IMage; https://id.pinterest.com/pin/91620173665094279/

Komentar