TIGA PULUH ENAM
BLOG NURLAELI UMAR- Ada apa ini? Randi gak bareng Haris?
Masa bodo! .
Suasana kantin ramai, semangkuk mie
ayam siap disantap. Tifa mencoba ngebuka plastik pembungkus sumpit, dia menekan
sumpit ke depan sampai robek plastiknya. Es teh manis baru saja datang, terhitung
ada enam..
“Tif, tumben loe gak bareng Randi
atau Angga.”
Tifa yang sibuk membelit mie pake
sumpit mengalihkan matanya ke wajah Anita.
“Bosan.”
“Cuma itu alasannya? Biasanya kalian
mirip permen karet. Apa ini karena Liana?”
“Liana?” tanya Tifa sebentar, tapi
kemudian tak acuh, dia melanjutkan acara makannya. Cewek itu tidak terlalu
peduli, mie ayam mengalihkan dunianya. Si Mas penjual itu memang ahlinya,
pertanyaan berikutnya dari Anita lewat gak dipedulikan.
Tiga yang semeja berhenti menikmati
makanan pesanan mereka, dua yang lain meminum es teh manis dari sedotan. Mereka
berlima ingin melihat reaksi Tifa. Sayang Tifa lagi berada di dunia nikmatnya
mie ayam.
“Tif …!” Suara Anita terdengar
sedikit menekan.
“Iya, gue denger. Tapi mie ayamnya
terlalu nikmat.”
“Ngomong-ngomong, apa loe udah tahu
sepak terjang Liana? Dia ngedeketin Randi, Tio, bahkan kata Katalina dia
mengincar teman loe yang baru. Siapa itu?
"Haris!”
Tifa berhenti makan, bukan karena
kaget—meski sebenarnya sedikit kaget sama sepak terjang Liana yang dikabarkan
teman-temannya--tapi ini karena habis.
“Mie gue habis, gue gak mau es teh
manis. Mau air putih aja. Loe bawa kan, Nit? Kalau loe mau bagi ‘ntar es ini
buat loe atau siapa pun yang mau. Dan bonusnya gue jawab pertanyaan loe.”
“Dasar! Bukan Tifa kalau gak begini.
Nih!” Sebuah botol air putih yang memang dibawa dari kelas dikasih ke Tifa.

Komentar
Posting Komentar