TIGA PULUH LIMA
BLOG NURLAELI UMAR- Mengurung di kamar setelah makan
siang yang terlambat jamnya karena ini sudah hampir sore, empat kurang lima.
Masakan mama tetap nomor satu, apalagi perkedel dan sup ayam. Sambalnya jangan
dikata “that’s number one lah”.
Buku dari dalam tas dikeluarkan,
dipelajari lagi dan mulai dilihat beberpa PR yang harus dikerjakan, tapi nama
Liana tiba-tiba menjadi lebih menarik. Haris! Mulai dari Haris dulu, mungkin
setelah itu entah nanti atau besok akan cari info apa yang dilakukan Liana.
Sebenarnya gak biasa seorang Tifa
cari info tentang seseorang, acara infotaintmen yang ngasih info artis saja gak
bikin dirinya tertarik, lha ini Liana? Kalau saja bukan Angga yang
memperingatkan, mungkin dia gak perlu peduli.
Tifa beranjak dari meja belajarnya
membiarkan buku-buku dengan soal-soal menunggu dikerjakan. Pensil dan pulpen
dimasukkan ke dalam kotak pensil, kali ini di menyambar handphone yang
tergeletak gak jauh dari jangkauan tangannya. Menekan angka kemudian
membaringkan diri dengan badan setengah duduk. Bantal yang empuk dan wangi
bikin posisinya nyaman.
“Halo, met sore. Bisa dengan Haris?”
“Iya ini gue. Lagi ngapain?”
“Oh, ya udah. Randi? Gak usah! Oke
met sore.”
Aneh, gak ada yang perlu
dikhawatirkan tentang Haris, begitu menurut Tifa. Haris lagi bareng Randi dan
seseorang yang gak disebut, karena Haris bilang Randi ada di depan lagi belajar
sama seseorang. Tapi memang gak ada yang perlu dicurigai, toh Tifa sendiri pun
bisa belajar bareng siapa saja.
Baru saja diletakkan handphonenya, sebuah panggilan masuk, bikin buyar konsentrasi otaknya yang mulai sibuk sama PR. Baru nomor satu memang, tapi cukup menggangu. Huh! Nomor milik Randi.
“Halo, iya ini gue. Met sore juga.”
“Lagi ngerjain PR lah, gue gak mau
malam-malam mutar otak, ada novel baru
soalnya dari kakak gue.”
“Lho katanya loe sama Haris.”
“Oh, ya udah.”
“Gak kok, Cuma nebak aja, karena loe
bilang kemarin mau ke rumah Haris.”
“Oke, bye.”








Komentar
Posting Komentar