SENDIRI DULU (tiga puluh satu)

 


TIGA PULUH SATU

BLOG NURLAELI UMAR- ”Nanti kalau udah makan di kantin dan belum hilang juga, minum obat ini.”

Sebenarnya sedikit malas, tapi dengan sigap mama meletakkannya di saku depan bajunya. Sudah ditolak tapi pemaksaan mama hanya bisa dibalas dengan senyum dipaksakan. Mama selalu menang untuk urusan begini.

Kalau saja hari ini tidak ada ulangan matematika, dan kejelasan tentang siapa saja yang akhirnya lolos sebagai perwakilan ke ajang olympiade sains di tingkat Kotamadya, sebenarnya tawaran mama untuk beristirahat di rumah sudah diluluskan.

“Nanti kujemput, dan jangan menolak, aku kangen!”

Tio ternyata sudah menghadangnya di pintu masuk kelas.

“Tapi aku gak janji, Kak!”

Tio berlalu tanpa mendengarkan penjelasan Tifa, yang tadi terlihat mulai membuka mulutnya. Belum selesai dengan satunya, seseorang menepuk pundaknya.

“Masuk Tif, gue mau nyontek PR yang kemarin.”

Hampir saja pening di kepalanya mengkuadratkan diri, tapi alasan yang menyertai tepukan itu membuat pening dikepalanya langsung mengakar tiga.’’

“Makasih.”

“Apanya, Tif?” kejar teman sekelas Tifa itu sambil benar-benar mengejar jalan Tifa yang bergegas ke mejanya.

“Loe udah mau nyontek.”

“Hah? Sialan loe, Tif! Tapi karena itu penghargaan, gue juga mau nyontek satu nomor lagi yang bahasa Inggris.”

“Apa? Nambah. Bukannya itu PR udah kadaluarsa?”

“Iya, tapi gue ‘kan kena hukuman, mau nulis jawabannya keburu bel. Gue butuh buat belajar, punya loe kan yang kemarin dapat nilai perfect”

Dua buku berpindah dari tas ke meja dan kemudian ke meja lainnya. Kepalanya sudah membaik, tapi tawaran Tio? Tifa hanya menarik napas panjang, itu jawaban yang bisa dia berikan saat ini.




Komentar