SENDIRI DULU (tiga puluh sembilan)

 


TIGA PULUH SEMBILAN

BLOG NURLAELI UMAR- Tio berjalan dan terlihat terpaksa. Dengan muka sedikit enggan Liana mengikuti dari belakang. Pesanan makanan dan minuman datang, pembicaraan seru terjadi di meja tempat di mana Tio dan Liana bergabung. karena mereka satu klub basket, tapi selera makan Tio sedikit kendur, dan itu gak lepas dari mata Liana, yang lahap dan pura-pura gak tahu menahu.

*

***********

Sebuah pesan masuk lima menit setelah bel terakhir berbunyi. Tifa yang beranjak dari duduknya berjalan keluar kelas dan bergabung dengan anak lain buat pulang, merogoh saku depannya.

Sebuah nomor yang gak asing. Tifa menyentuh keypad dan mengetikan tiga huruf: iya. Dia tersenyum senang, meski cuaca agak mendukung. Langit mendung dan suasana tampak sedikit berkabung.

Wangi lembap uap air terasa di hidung, mungkin di daerah lain mendung sudah turun menjadi titik-titik hujan, menangis buat bumi.

“Tif, kita bareng!”

Tifa memalingkan muka melihat ke sudut kelas. Tampak Randi lagi ngeberesin buku dan alat tulisnya ke dalam tas.

“Cepetan, kebiasaan deh!”

“Iya, tapi bareng gak?”

“Enggak, tapi gue tungguin, biar ada teman sampai depan.”

Randi sudah selesai, setengah berlari ke arah Tifa yang sudah hampir mencapai pintu, tapi, sayang … brak!

Tifa berlari ke arah Randi yang jatuh dan meringis. “Kenapa, loe?” Tifa membantu Randi dengan mengambil tasnya.

“Guenya, Tif. Kenapa jadi tas gue yang loe selamatin. Yang sakit kan gue. Sini tangan loe, bantu gue berdiri!”

Dengan senyum ditahan Tifa mengulurkan tangan, “Ayo cepetan manja amat, nih!”

Randi berdiri, tapi kemudian, “Kok gak ada adegan pelukan?”

Komentar