TIGA PULUH TUJUH
BLOG NURLAELI UMAR- Tifa beranjak
dari tempat duduknya, dua teman yang berdekatan dengannnya menarik untuk duduk
kembali, mereka ingin dapat jawaban cewek itu, karena di mata mereka Liana
bermaksud gak baik alias mangkir memberi jawaban.
Aneh saja mengapa tiba-tiba dengan sangat mencolok
Liana mendekati orang-orang yang dekat dengan Tifa secara bersamaan. Dan, seolah
Tifa gak tahu. Mereka geregetan saja.
“Jangan marah loe-loe pada. Gini nih
….”
Semua teman tampak sangat antusias.
Padahal ingin sekali Tifa ngerjain mereka dengan melarikan diri.
“Gue nggak tahu sepak terjang Liana.
Dan gue gak perlu terlalu tahu gadis itu. Dia dekat dengan siapa pun terserah.
Gue lagi fokus. Dua hari lagi gue ikut olympiade. Yang gue butuhin sekarang
adalah loe semua dukung gue dengan doa. Gue rasa kalian juga gak harus jadi
mata-mata, sampai Haris yang belum gue kenalin kalian udah tahu segala.”
“Jadi loe gak ambil peduli, meski loe
kenyataannya seperti itu?”
Anita menunjuk dengan matanya, benar
saja di arah jalan menuju kantin terlihat Liana berjalan dengan Tio. Ada
cemburu menggelegak seketika, tapi Tifa bisa apa, dia yang menjauh dari Tio.
Jadi wajar buat Tio dekat dengan siapa pun. Tifa menarik napas panjang, jiwa
tangguhnya tertantang.
.“Gue cabut duluan!” Tifa beranjak
dan berjalan ke luar kantin yang berarti akan berpapasan sama Tio dan Liana.
“Tif … tunggu!” Yang lain segera
menghabiskan makanan mereka dan ingin menghentikannya. Tapi lancung Tifa
terlanjur jalan.
Benar saja di pintu masuk kantin
mereka berpapasan. Tifa berjalan cuek. Tio mengibaskan tangan Liana yang tadi
hampir menggamit. Tangan Tio dengan cekatan mengambil tangan Tifa, hampir kena.
Tapi sayang, berbarengan dengan
mulutnya memanggil Tifa, tangannya diraih Liana. Tifa melihat sekilas dan tahu
kejadian itu. Tapi pura-pura gak melihatnya. Dia berhenti, karena panggilan
Tio.
‘Ada apa, Kak?”

Komentar
Posting Komentar