DUA PULUH SEMBILAN
BLOG NURLAELI UMAR- Kejuaraan sudah memberikan beberapa
pemenang, meski baru babak penyisishan. Biasanya cukup satu hari untuk
menyelesaiakan semuanya. Es krim di tangan Tifa tinggal satu kali gigit habis.
“Enak ya?”
“Udah mau habis baru nanya, sampai
gue lupa bilang terimakasih.”
“Terimakasih untuk?”
“Dijemput dan es krimnya, juga
nemenin di sini merhatiin jalannya pertandingan.”
“Itu es krim dari Tio.”
“Apa?” Ingin rasanya Tifa memuntahkan
es krim itu tapi sayang gigitan terakhr baru saja masuk ke kerongkongan.
“Ada yang salah?” tanya Haris dengan
mimik gak paham. Dia gak tahu kenapa mendengar dua kali nama Tio disebutkan
reaksi Tifa seperti alergi.
“Gak, tapi kenapa gak bilang dari
tadi.”
“Terus kalau gue bilang, es krim itu
mau dibuang? Gue gak ngerti loe itu kenapa? Ada yang salah? Gini … tadi, Tio
sama anak perempuan yang kemarin ikut ke toko buku. Siapa namanya? Oh iya …
Liana. Terus dia ngasih ke gue karena gue bilang mau ketemu loe.”
“Oh …”
Tifa terlihat gak berselera untuk
bicara banyak. Terlebih soal Tio. Dan dia merasa gak perlu menyalahkan Haris
sebegitu rupa. Cewek itu menarik napas panjang, dan itu terlihat jelas sedikit
membuat Haris merasa dia telah mengecewakan Tifa, meski gak tahu alasannya.
Kemenangan di arena kejuaraan terjadi
lagi, kali ini dua kemenangan sudah diperoleh untuk masuk babak selanjutnya.
Tifa sudah melupakan kejadian es krim barusan. Haris ikut larut karena senyum
Tifa sudah berani mengembang lagi. Tifa, loe itu cantik banget, deh!
Dari kejauhan meski gak sempat menarik perhatian Tifa.
“Es krimnya enak?”
“Iya, makasih, Kak. Apa setiap ada
kejuaraan selalu ikut menyaksikan?”
“Iya.”







Komentar
Posting Komentar