TIGA PULUH
BLOG NURLAELI UMAR- Mata Tio gak pernah lepas dari arena
dan Tifa. Beberapa kali dia mengibaskan tangan Liana dengan perlahan biar cewek
itu tahu tapi gak tersinggung, tetapi dia itu cukup licin. Semakin ditolak
semakin merapat.
Tifa, please. Menengoklah. Apa pun
itu entah cemburu atau benci, tapi aku butuh itu. Setidaknya memberi sinyal,
bahwa rasa itu masih ada! teriak Tio dalam hati.
Liana tahu, meski Tio ada di
sampingnya tetapi seniornya itu lebih memerhatikan Tifa. Tapi bukan Liana jika
begitu saja menyerah. Meski jalannya gak mulus dan dia dimanfaatkan. Cewek itu
gak ambil pusing.
Meski diwarnai insiden karena ada beberapa yang gugur di babak penyisihan karena kalah angka, dan peserta yang cedera karena bibir pecah kena tendangan lawan, dan sempat membuat Tifa sedikit menarik napas panjang gak tega.
Tapi, tampilnya anak-anak dari dojang tempat
dirinya melatih sebagai juara umum dengan lima emas, dua perak dan tiga
perunggu membuat Tifa sangat terlihat gembira, binar matanya memancarkan itu
semua. Tanpa sadar dia memeluk Haris, bahkan di depan mata Angga dan Tio. Tanpa
rencana, sungguh!
“Tif, sorry. Gue ajak Haris, gue mau
ke rumah sakit. Loe sama Angga aja. Tadi gue udah pesan. Maaf ya.”
“Oh, gitu. Iya deh, Rand. Angganya
udah tahu? Terus mana?”
“Dia bilang nunggu loe di parkiran
kalau udah kelar semuanya.”
“Oke.”
Haris gak bisa menolak meski dia
ingin sekali pulang bersama Tifa.
Semenjak memasuki pintu gerbang tadi,
yang bergeming di kepala cewek itu hanya ingin secepatnya duduk di kelas.
Sarapan tadi pagi hanya dilihatnya saja, seleranya hilang. Untung mama sedikit
cerewet hingga teh manis berhasil masuk ke kerongkongan, membuat lambungnya sedikit
hangat. Tawaran pereda sakit kepala dan surat dengan tanda tangan mama untuk
izin kali ini ditolak Tifa. Tapi mama bersikeras,







Komentar
Posting Komentar