EMPAT PULUH DUA
BLOG NURLAELI UMAR- “Udah nyampe, gue
boleh mampir?”
Tifa melihat Tio yang setengah
memohon, dia gak tega menolak. Gak salah bukan berteman sama bekas pacar? Apa
lagi dia sudah berlelah diri mengantar?
“Kok bengong, gue mohon, Tifa.”
“Eh, iya, silakan, Kak.”
Meski Tio merasa ada jarak gak
seperti dulu, yang penting dia saat ini bisa dekat Tifa, siapa tahu bisa
balikan.
“Tante!”
Tio mengulurkan tangan mengambil
tangan Mama Tifa . Tidak ada yag berubah dengan sikap beliau, Mama memang gak
pernah ikut campur masalah hati Tifa meski Mama membaca mereka berdua gak
seperti dulu.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Tante.”
“Tante tinggal dulu ya, Tifa lagi
ganti baju. Dia bilang kamu yang antar dari ajang kompetisi.”
Tio mengangguk mengiyakan, lalu Mama
Tifa menghilang ke dalam. Tifa muncul dengan atasan merah muda dan celana jeans
hitam, rambutnya dibiarkan tergerai, gak seperti kalau sekolah yang dikuncir
kuda. Dia duduk berjarak dari Tio, dihalanagi meja.
“Cantik.”
“Terimakasih.”
Tio menatap wajah Tifa, tapi cewek
itu sepertinya sudah kehilangan selera buat tersanjung. Dia balas menatap Tio
sambil tersenyum, lalu ….
“Kenapa?” tanya Tifa sambil seperti
biasa melebarkan matanya. Tifa memang khas banget sama matanya kalau lagi
bicara.
“Sepertinya loe gak merasa sedih
dengan jarak ini.”
Tifa tersenyum sedikit getir, tapi
dia sudah memutuskan untuk enggak, dia harus komit. Dia gak ingin kembali sama
Tio, gak mau jalan sama seseorang yang cuma bisa
membuatnya cemburu tanpa mau
mengerti. Gak mampu menjaga hatinya biar nyaman dan aman.

Komentar
Posting Komentar