Bab
32
BLOG NURLAELI UMAR- Tuan
X tampak gelisah. Dia ada di sebuah meja bar hotel kecil yang murah.
Berkali-kali dia menghela napas berat. Istrinya sudah merengek ingin kembali ke
luar negeri, alasannya di sini sudah tidak nyaman lagi, dan dia mengabulkannya
tadi pagi.
‘’Aku
akan berangkat seminggu lagi. Semua sudah diurusi oleh anak buahmu, Sayang.’’
‘’Tapi,
aku tidak bisa menyusul secepatnya.’’
‘’Tidak
masalah, aku akan menunggumu di rumah. Tapi, kau harus menelponku setiap hari,
sehari tiga kali.’’
‘’Dia
membuat kita seperti di neraka, kukira cinta bertepuk sebelah tangan tidak akan
membuatnya menjadi menjegal dan mengacaukan hidupku di usia senja. Maafkan aku
melibatkanmu.’’
‘’Tidak
masalah. Aku hanya ingin kau mnyelesaikan apa yang kau mau. Meski, sebenarnya,
kau lebih baik menutup semua bisnismu di sini dan menikmati masa tua bersama
keluarga kita. Aku mungkin memang tidak berjodoh dengan tanah ini.’’
‘’Kemarilah!’’
pinta Tuan X sambl mengembangkan kedua tangannya menunggu istrinya menghambur.
Dan, sekarang kopi di hadapannya tinggal setengah, tetapi J masih belum datang juga. Dia tahu ini kesalahannya mengundang J secara mendadak. Dia tidak ingin bertemu siapa pun di hari selanjutnyna sampai istrinya pergi ke luar negeri, lebih tepatnya pulang ke rumah ke dua mereka. Tuan J ingin menghaiskan waktu berdua saja bersama istrinya.
Seorang
pelacur dengan bedak tebal dan gincu warna merah menyala mendekati Tuan X.
Perempuan itu tahu benar Tuan X tidak berselera kepadanya, tapi sebatang rokok,
segelas minuman dan sepiring nasi goreng sudah biasa menjadi jatahnya tengah
menunggunya. Setidaknya lima menit setelah dia menghampiri meja dan menanyakan
apakah ada yang bisa dibantu.
‘’Duduklah,
dan pesan makanan yang kau inginkan!’’
Pelacur
murahan itu mengangguk. Tapi, dia kemudian menunduk. Tuan X tertawa. Dia paham
benar ada sesuatu yang mengganggu kepala perempuan yang dianggap sampah oleh
mayarakat itu.
‘’Berapa
uang kamu butuhkan? Siapa yang sakit?’’
‘’Tidak,
aku tidak mengambil uang tanoa bekerja. Itu pantangan bagiku.’’
Tuan
X tertawa. Dia menertawakan bagaimana perempuan yang dianggap sampah yang
sedang berada di depannya ternyata masih punya harga diri. Biasanya dia
membelikan makanan dan minuman itu selama ini untuk bayaran memata-matai apakah
orang yang ingin bertemu dengannya sudah sampai atau belum. Mereka para pembeli
senjata tentu saja.
Orang-orang
di sini tahu. Orang-orang dengan kehidupan yang tidak akan pernah ditampakkan
sebagai kebanggan. Hotel murah untuk para pelacur murah dan pelanggannya,
beberapa penjual barang terlarang, tempat mewah buat para pengemis gadungan
yang enggan bekerja tapi ingin berfoya-foya menikmati surga dunia. Anehnya
hotel ini tidak pernah sepi. Tempat ramai yang aman untuk Tuan J bertransaksi
dan menemui pembeli, karena satu dengan yang lainnya tahu sama tahu bagaiaman
menghindari mereka yang petugas patroli.
Image; https://id.pinterest.com/pin/4151824651291373/
Komentar
Posting Komentar