MONSTER PEMBUNUH Bab 35

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/140806232833631/

Bab 35.

BLOG NURLAELI UMAR-’Siapa dia?’’

‘’Tikus got. Tolog panggilkan bajingan penguasa di sini! Aku sedang malas berurusan dengan tikus got seperti ini.’’

J tetap memegangi orang itu yang sekarang tertunduk. Tuan J meminta seorang pramusaji menghubungi orang yang J maksud. Tidak berapa lama muncul penguasa daerah itu, daerah di sekitaran hotel murah itu.

‘’Ada apa, Tuan?’’’ kata laki-laki berawakan kurus, bertampang licik denga tato di lengannya.

‘’Ini anak buahmu?’’

‘’Bukan, Tuan,’’ kata laki-laki itu setelah meneliti orang yang tangannya dikunci J.

‘’Baiklah, terserah kau J, apakah dia akan kaumakan atau kau lepaskan.’’

J paham benar, laki-laki penguasa daerah sekitar hotel tidak mau mengambil resiko berhadaapn dengan Tuan X. Dia kemudian menyuruh dua laki-laki yang dianggap tidak berguna itu pergi, tetapi sebelumnya dia memberikan sejumlah uang kepada mereka berdua.

‘’Kalau sampai kulihat muka kalian berdua di sekitar hotel ini lagi, dan menggangguku, kalian berdua akan mati. Kujamin itu. Aku tidak peduli Tuan X sekalipun ada di belakang kalian.’’

‘’Jangan kau sangkut-pautkan aku dengan dua tikus got ini, J. Kalau sampai mereka atau siapa pun melakukan hal buruk kepadamu, aku tidak akan segan membunuh mereka di didepanmu, dan tidak akan mengemis ampunan padamu sekalipun.’’

Dua laki-laki itu mengangguk, setelahnya mereka buru-buru pergi dari hadapan J dan Tuan X.

Tuan X mempersilakan J duduk. Dia memesan minuman, meski tahu J tidaka akn meminum pesanannya. Tuan X meminta maaf atas kejadian yang bartu saja terjadi.

‘’Aku tidak menyalahkanmu, aku tahu mereka bukan orang-orangmu Tuan X, tapi aku hanya ingin mereka tidak mengulanginya lagi. Aku hanya tidak ingin tanganku kotor oleh mereka. Aku hanya sedikit kaget, karena oarng-orang di sini, meski aku jarang menemuimu, mereka tahu aku dan pengaruhmu di sini. Kurasa itu orang baru, karena dalam sekali tangkap dia sudah ada dalam genggamanku.’’

Keduanya akhirnya bicara, tepatnya Tuan X yang lebih banyak bicara. Mereka bicara tentang spesifikasi senjata, dan harga. Tidak berapa lama tampak seseorang medekati mereka. Tuan X mengangguk, kemudian ketiganya pergi ke sebuah kamar.

Begitu kamar dibuka, Tuan X mempersilakan J masuk. Ada dua orang lagi di dalam. Tuan X menyuruh mereka memperlihatkan barang yang X inginkan. Mereka tampaknya memang orang kepercayaan Tuan X dan sudah cukup lama, meski J kali ini tidak mengenali wajah mereka, J belum pernha bertemu dengan mereka berdua.

‘’Orang barumu, Tuan X?’’ tanya J sambil menerima barang yang dia inginkan.

J memeriksanya dengan detail. Dia mengangguk-angguk sambil matanya tetap meneliti mencari minusnya.

‘’Yang biasanya sedang kuliburkan, mereka butuh liburan, jadi sekalian kuekspoor bersama istriku.’’

J mengangguk-angguk.

‘’Istrimu kembali ke sana lagi? Kurasa lebih baik begitu, perempuan yang kau pesan nyawanya kupastikan dia akan mati, entah oleh orang-orangku atau kelompok lain. Kau sudah mendegar ada kelompok yang membuat kacau dengan mengadu domba bukan? Amatir? Tidak, juga, kurasa mereka pintar.’’

‘’Yang menembak mobil pasangan pengusaha, kemarin?’’

‘’Ya, politiknya mengadu domba seperti itu. Kurasa marketingnya sangat cerdas. Dia tahu keberadaanku sepertinya. Aku juga penasaran, siapa mereka.’’

‘’Jangan-jangan bekas anak buahmu, J.’’

‘’Bisa jadi, kemungkinan seperti itu bisa saja. Aku mengikut cara mainnya.’’

‘’Mereka membikin agensi sendiri dan kau baik-abik saja?’’

‘’Kalau mereka kubunuh, aku kehiangan rival, bukan? Kurasa dengan mereka berjaan sendiri, permainan menjadi lebih menark.’’

‘’Kurasa benar.’’

‘’Kita sama-sama tahu, dalam bisnis tak ada kawan, tetapi saling menguntungkan. Tapi, aku tetap tidak akan memakai cara berkhianat.’’

‘’Áku bahkan tidak tahu orang-orangmu, J.’’

J tertawa. Dia menyerahkan senjata yang dia pegang, dan menunjuk yang lain agar diperlihatkan. J ingin menelitinya sendiri, meski setelah semua barang dibawa pergi nanti, dia akan memberikannya kepada orang-orangnya untuk mengecek seberapa minus plusnya. J tetap tidak pernah mempercayai begitu saja Tuan X dan orang-orangnya, meskipun mereka berbisnis sudah cukup lama,



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar