MONSTER PEMBUNUH (bab 38)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/70437470980288/

Bab 38.

BLOG NURLAELI UMAR_ Sebuah ketukan di pintu setelah A meletakkan handphonenya di atas meja kerjanya. A membukakan pintu, dan berpelukan dengan seseorang yang datang itu.

‘’Coba lihat! Apa kau masih mengenal dia?’’ tanya A setelah mereka saling melepaskan pelukan.

S bangun dan mengangguk. M mendekat dan mengulurkan tangan, mereka M dan S berjabatan tangan. M tahu benar kalau O dan S sama-sama menyukai R yang nota bene tungan A dan J yang kekasihnya.

Tapi, setelah mereka bertiga duduk dan A menjelaskan kedatangan S dalam rangka apa, M memang dari awal bersikap tidak terbaca emosinya karena tetap tersenyum, menjadi sedikit melunak. Dia memperhitungkan uang yang akan didapat.

Karena itu, M mengenyampingkan perasaannya dan berusaha fokus untuk menganggap kalau mereka sedang berbisnis, meski tetap saja di dalam hatinya menaruh curiga dan koma-koma terhadap S.

S akhirnya sudah memilih apa saja yang hendak dia pesan. Dia kemudian diajak melihat-lihat berkeliling toko dan A menjelaskannya. S membayar kontan semua pesanannya. Dan, A menjanjikan pesanan bunganya akan datang sesuai perjanjian.

A dan S berpelukan sebelum mengantar pergi dari toko bunga milik A, sedangkan M hanya mengangguk dan tersenyum saja. S pulang, sedangkan M masih kembali masuk ruang kerja A mengekor A.

‘’Kau sangat tidak menyukai S, bukan?’’ tanya A sambil tertawa.

‘’Apa itu sangat terbaca di wajahku?’’

“Tentu saja tidak, tapi aku kan temanmu. Kurasa S tahu itu. Dia agak sedikit ngeri menghadapimu.’’

M tertawa. Dia kemudian terlihat mengecek hanphonenya.

‘’Tinggalah sebentar lagi. Kau punya karyawaan yang banyak dan bisa bekerja sendiri, bahlkan meski kau tidak masuk sebulan.’’

‘’Ada yang ingin kau bicarakan denganku, bukan’’

‘’Aku putus dari R, tadi kemarin.’’

‘’Hei, benarkan? Kalau begitu atur tanggal baikanmu.’’

‘’Aku serius.’’

‘’Alasannya? Kau memergoki O ada satu selimut dengan tunanganmu?’’

‘’Setelah insiden penembakan kemarin, dan meski ada insiden penembakan yang sama, kurasa R memang ingin membunuhku. Bahkan, meski tidak ada insiden itu sekalipun.’’

M diam saja. Tapi, kemudian dia menatap A.

‘’Pastikan kau tidak kembali lagi, karena itu jokes yang tidak lucu!’’



Komentar