Image; https://id.pinterest.com/pin/563018697931367/
Bab
39.
BLOG NURLAELI UMAR- Tidak
ada pembahasan lain, setelah A mengatakan putus dengan R, karena di saat yang
sama seseorang datang dengan membawa dokumen, mungkin semacam kesepakatan dan
terlihat A menandatanganinya. Itu semua berhubungan dengan R.
M
menanyakan apakah hasil kerjanya bagus sambil diantar A menuju mobilnya. A
mengatakan semua baik-baik saja. M pergi dari kantor A menuju ke sebuah super
market untuk membeli sesuatu, tiga puluh menit kemudian dia terlihat melesat
menuju coffee shopnya dengan sedan berwarna kuning pemberian J.
M
tidak menanyakan kepada A lebih detail tentang alasan A membatalkan
pertunangannya dengan R. Kalau disebutkan apa saja dosa R terhadap A, mungkin
akan panjang sepanjang jalan yang baru saja ditempuh M dari kantor A, atau
mungkin lebih panjang lagi.
Dari
kasus pembunuhan L saja sudah tetbaca R itu bagaimana, kemudian O dan S yang
dengan mudahnya masuk keluar kantor R dengan banyak alasan, belum lagi
perempuan yang tidak bisa dihitung dengan jari.
Termasuk
di dalamnya kasus R yang datang dengan buket bunga ke coffee shopnya, padahal
jelas-jelas M adalah sahabat M dan J adalah teman dekat, partner kerja, sekaligus pemilik bersama perusahaan di mana
R dan J sekarang berkantor bersama.
Bisa
jadi insiden penembakan mobil R dan A kemarin sebagai puncaknya, atau ada hal
lain yang A temui tetapi belum mau diberitahukan kepada M. Intinya M percaya, kalau
A tahu resikonya membatalkan pertunangannya dengan R dengan sadar.
Setengah
kilometer lagi M akan sampai ke coffee shop yang akan dia datangi. Satu dari
tiga coffee shop yang berbeda dengan coffee shop di mana tadi dia mendapat
panggilan A untuk datang.
Tiba-tiba
terdengar sebuah benda menebus kaca bagian belakang mobilnya, dan bunyi kaca
yang seperti pasir ditebarkan. Datang dari arah belakang tempat duduknya di
mana dia mengemudi, lalu menebus kaca
yang satunya lagi. Terjadi dua kali.
Tentu
saja M kaget bukan kepalang, tetapi dia berusaha tenang dan tetap mengemudiakan
mobilnya dengan kecepatan yang tetap. Dia menekan nomor di mana dia men-setting
keypadnya untuk situasi terburuk, lebih tepatnya J yang men-settingnya.
Sekarang M baru menyadari pentingnya itu. Dia juga menyadari sebegitu pedulinya
J akan dirinya.
Telpon
tersambung. ‘’Halo, J! Help me, pelase! Mobilku ditembaki, J. Dua peluru sepertnya
menembus kaca belakang dari kanan ke kiri.’’
‘’Beritahu
aku posisimu!’’
‘’Setengah
kilometer dari coffee shop ke dua, aku sedang menuju ke sana dari arah toko
bunga milik A.’’
‘’Baiklah.
Tetap tenang mengemudi. Kalau perlu tambahkan kecepatan! Nyalakan G-mapsmu!’’
“Oke!”
M
mengikuti apa yang J perintahkan. Dia masih dalam ketakutan, tetapi berusaha
untuk bersikap tenang. M masih melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sama,
sambil tetap waspada mengantisipasi serangan berikutnya.
Tidak
ada kendaraan yang terlihat mengikuti dengan mencurigakan. Semua terlihat
seperti biasa, keramaian jalanan kota. M sudah berpikir untuk menambah
kecepatan dan mengambil jalan menuju kantor polisi terdekat, jika ada serangan
lanjutan.
M
tidak mengabari A, di saat seperti ini anadi A datang juga tidak akan membantu
apa-apa. Justru akan membuat keadaan bertambah kacau saja, karena A sendiri
masih trauma dengan berondongan mobilnya di depan coffee shop pinggir danau dan
mobil R di pelataran parkir apartemennya, tempo hari.
Komentar
Posting Komentar