Puisi 60. Hari Berkabung

 


BLOG NURLAELI UMAR- Putraku lahir 4 September, dan sekarang 9 Sepetember, Aku hanya bisa mengenang dan mendoakannya saja dari sini dari luka yang mesti diterima, dan direlakan hadirnya.


Kehilangan

: Kepada Umarku

kau laki-laki yang belum genap sembilan belas bilangan usiamu

yang matamu tak pernah ingin air mata menetes dari mataku

kepergianmu telah merawat kehilanngan

dengan runut dan tekun tanpa jeda

diam-diam tumbuh, berdaun, merambat, melebat

menjadi rindu begitu hebat

mencipta sungai-sungai kecil di pipi tuaku

berarus tiada berputus, bersama untaian bebijian tasbih

menggerus segala angkuh, mengendapkan segala fikir

tentang pulang yang menjadi keharusan

dan kelak giliranku akan datang

 

Kesempatan Ke Dua

kau

jika boleh menawar

aku ingin memelukmu, membasuh lukamu

menerbitkan matahari di kedua matamu

berkebun kebahagiaan dengan biji-biji ketuluan

tanpa keluh, tanpa gaduh

lagi, lebih dari kemarin, lebih dari yang pernah kuberi sebelumnya

sayang itu tak bisa, selain doa

 

Kelak Kita Bertemu

dadamu tak lagi berdetak, inginmu tak lagi berhitung

masa telah memutus segala mendung

senyummu menghiasi udara,menumbuk cintaku semakin dahaga

pertemuan mungkin akan lama

hingga gugur daunku di Arasy-Nya

 

Kau di Diriku

:Selamat Jalan Umarku

Keikhlasan itu bukan tak boleh berurai airmata

Anak-anak sungai yang bernama cinta

Keikhlasan adalah penerimaan dari hati

Tentang pergi yang tak pernah kembali

Sebab jejak-jejak adalah cerita

Yang tak pernah tuntas dibaca oleh usia

Di dada

Di mata

Di hati

Ada, ada, ada


Image; https://id.pinterest.com/pin/281543724168865/

 

Komentar