SENDIRI DULU (enam puluh empat)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/3729612241597141/

SENDIRI DULU (enam puluh empat)

BLOG NURLAEI UMAR- “Terimakasih Beum.”

Anak-anak yang latihan sudah berganti baju, latihan selesai sedikit mundur dari biasanya, tapi gak satu pun mengeluh, mereka tampak senang-senang saja. Randi duduk bersebelahan sama Tifa, kaki diselonjorkan, alasannya menghindari kram dan varices.

“Loe memang nyebelin kalau pakai dobok.”

“Lagu lama itu, ada apa loe minta bicara serius kayak gini?”

“Enak aja, gue bosan ngajak loe ke toko buku. Kalau ketemu buku sama makanan perhatian loe habis sama mereka, gue dicuekin.”

Tifa mencabuti rumput di sampingnya, sedang Randi terlihat matanya menyapu ke segala arah. Tifa tahu ada sesuatu yang serius, biasanya Randi kalau masalah PR atau sekadar iseng cukup menelpon atau kirim pesan saja.

“Liana mecat gue sebagai guru lesnya dengan tidak terhormat. Dia ada bersama Haris waktu gue datang buat ngasih lesan. Saat itu dia cuma bilang kalau Haris itu guru les barunya. Gue gak ngerti apa maksudnya. Gue juga gak ngerti apa maksud Haris. Padahal dia tahu kalau gue ngasih les pelajaran yang sama ke Liana.”

Randi diam sebentar, Tifa tetap diam mendengarkan kelanjutan kalimat Randi. Saat ini yang pantas dilakukan memang hanya diam mendengarkan. Lalu Randi melanjutkan lagi, ”Saat itu gue bener-bener kaget, ingin rasanya gue marah, tapi gue inget kata loe: kalau kita marah itu adalah satu point kekalahan kita sebelum bertarung.”

Randi terdiam cukup lama. Tifa pun sama, otaknya berputar mencerna kalimat Randi lebih dari yang dikatakan cowok itu.

“Masih mau dengerin?” tanya Randi.

Tifa menganggukan kepala mengiyakan sambil tetap mempermainkan pucuk- pucuk rumput dengan jemarinya. Randi tersenyum melihat tanggapan Tifa. Beberapa saat setelah itu bahkan gak ada satu kalimat pun meluncur dari mulutnya. Gadis itu menoleh ke arah Randi yang masih terdiam.

“Gue mau dengerin, loe malah bercanda, udah gue pulang aja!” ancam Tifa.

“Iya, gue lanjutin. Gue pulang ke rumah barengan Haris terima telepon dari loe. Gue gak ngerti apa maksud mereka. Liana, dia ‘kan bisa bilang lewat sms, telepon, atau waktu ke kantin, karena gue malah satu meja sama dia. Terus Haris, dia bahkan kenal Liana lewat gue, dan dia tahu kalau gue ngasih les buat Liana. Kenapa dia gak ngomong dulu sebelumnya. Tadinya gue anggap udah selesai, karena itu sepele dan di lain pihak, gue, Liana, sama Haris adalah teman. Tapi gue baru ngeh setelah gue tahu, dia juga ngedeketin Tio. Dan kejadian kemarin itu, loe ribut sama dia, jadi … gue ambil kesimpulan targetnya adalah loe, dan gue adalah alat pencapaian alias cuma pemain figuran.”



Komentar