SENDIRI DULU (enam puluh dua)

 



Image; https://id.pinterest.com/pin/932667404141255823/

SENDIRI DULU (enam puluh dua)

BLOG NURLAELI UMAR- “Seseorang yang punya tempat di hati gak akan terganti, tapi bukan berarti gue pengen balikan.”

“Jadi kemarin bukan karena tingkah Liana yang ngerebut perhatian Haris, Randi, sama Tio?”

“Sebenarnya gue gak keganggu, dia mengambil semua perhatian mereka, Cuma caranya seperti ingin bikin gue sakit hati dan norak. Randi, Haris atau bahkan Tio mereka masih sendiri, gak ada hak gue buat maksa mereka gak menerima cewek itu.”

“Gue gak ngerti.”

“Sebelah mananya?”

“Alasan pastinya.”

“Gue cuma ingin dia berhenti ganggu hidup gue.”

“Iya, itu yang gue baca. Tapi gue gak mau sok tahu, cuma ingin loe ngomong kalau loe butuh bantuan.”

“Kan, udah ini, gue dapat tiga bakso milik loe, bentar lagi gue juga dapat es the manis tambahan.”

“Kalau mau pesan aja, gak setiap hari loe mampir ke kafeteria ini, kan?”

“Berarti traktiran ini karena loe berempati. Kaiau gitu tiap hari gue kibarin bendera sedih, ah.”

“Kibarin aja, asal bisa bikin senyum loe terbit tiap hari, gue gak masalah. Tapi, kalau loe mau tiap hari gue traktir gak harus pakai ngibarin bendera sedih, cukup bilang ‘gue lapar’ aja, kok.”

“Ngga….”

“Hmm, ada apa?”

“Sikap gue kemarin salah banget ya? Gue kebangetan?”

“Sedikit sih, tapi gak apa-apa, cuma kaget aja. Loe gak seperti biasanya.Tapi gue ngerti, kok.”

Tifa menunduk, walau bagaimana pun dia memang merasa sedikit berlebih kalau tidak disebut terlalu, meski ada alas an



Komentar