SENDIRI DULU (enam puluh enam)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/701506079488823880/

SENDIRI DULU (enam puluh enam)

BLOG NURLAELI UMAR “Ketika kita mengambil sebuah nomor untuk kejuaraan, kita bisa kerahkan sekuat tenaga agar kita bisa menang, tentu dengan perhitungan dan kewaspadaan,selain serangan yang full power. Ketika, masing-masing kita dari satu klub akhirnya bertemu, untuk babak selanjutnya, akan diuji seberapa kita kita mendahulukan sebuah kekeluargaan di atas ego, dan penghargaan junior kepada senior. Jadi, intinya ketika kita bertarung dengan taekwondoin dari satu klub yang sama kita tidak hanya diuji dengan seberapa kita hebat saja. Bahkan, power pun dikurangi tidak sepenuh ketika berhadapan dengan lawan dari klub lain. Tepatnya seperti posisi loe, gue, Haris, Angga. Loe tahu bagaimana harus berhadapan dengan orang di luar lingkaran kita dan dengan orang dalam lingkaran.”

“Tif, gue rasa loe benar-benar gila, ya?”

“Gila sih gila, tapi gak pakai ngacungin dua jempol gitu.”

Randi gak mengira, bahkan dalam sebuah bela diri yang dia ikuti, tidak hanya masalah kekuatan fisik dan startegi serangan saja yang bisa dia pelajari.

“Apa beladiri yang lain begini juga, Tif?”

“Gue gak tahu pastinya, tapi gue percaya mereka pun sama.”

“Ya, gue pernah lihat film Kung-fu, rata-rata mereka ahli strategi selain memang mumpuni.”

“Bahkan dari warna sabuk Taekwndo pun loe bisa belajar banyak, putih yang bisa berarti dasar atau suci, kuning yang berarti bumi, hijau yang berarti pohon, lalu biru yang berarti langit, merah yang berarti matahari, dan hitam yang berarti akhir atau alam semesta. Belum lagi tingkatan yang memakai strip, itu semua ada artinya. Dan gue barumentahnya saja. Gak nutup kemungkinan loe bisa belajar banyak seni beladiri yang lain sekalian biar tambah mumpuni dan bijaksana selain sehat.’’

Randi mengangguk-angguk menyetujui pendapat Tifa.

“Kalau begitu, gimana kalau kali ini gue dapat kompensasi?”

“Memang loe gue rugiin? Kok gue yang harus ngasih kompensasi?”

“Ayolah, hari ini gue ulang tahun! Loe bayarin nasi padang, gue yang bayar parkirnya.”

Tifa tergelak, tapi demi mendengar Randi ulang tahun, dia langsung mengiyakan.

“Kalau ternyata gue nipu loe, memalsukan tanggal gimana?”

“Gue tahu loe ulang tahun bulan ini tapi gue lupa tanggalnya. Kalau loe nipu, gampang tinggal telepon ibu loe dan nagih billnya.”

“Dasar gila. Ayo, gue udah lapar berat!”

“Rand, loe gak malu ngajak gue makan ke Padang?”

“Kenapa?”

“Karena gue gila kata loe.”



 

Komentar