Image; https://id.pinterest.com/pin/3588874696663610/
SENDIRI DULU (enam puluh lima)
BLOG NURLAELI UMAR- Gak ada reaksi
untuk sementara waktu. Tifa terlihat terdiam, bahkan rumput yang tadi dimainkan
jemarinya tampak dibiarkan. Mata Randi menatap lekat pada sosok di sampingnya.
Dia memastikan jika Tifa mengerti maksud ucapannya. Tifa menoleh kearah Randi,
di luar dugaan, anak perempuan itu malah nyengir.
“Lho kok malah nyengir? Ini balas
dendam karena tadi? Apa, loe?”
Gerakan tangan Randi yang menempelkan
punggung tangan kekening Tifa ditepis anak perempuan itu.
“Apa-apaan, ini? Gue masih waras.
Bangun, Rand!”
Tifa mengulurkan tangan ke arah
Randi, tidak ditanggapi, bahkan Randi sedikit terheran dengan sikap Tifa. Cowok
itu menatap penuh selidik. Itu membuat cewek itu perlu melakukan tindakan
serius dengan menarik lebih keras lengan Randi biar bangun.
Setelah cowok itu terbangun, Tifa
yang masih memakai celana dobok dengan atasan kaus memberi sebuah tendangan ke
arah Randi, dengan sigap Randi menghindar. Cowok itu masih belum ngasih perlawanan,
karena belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Dua tendangan beruntun yang di
arahkan Tifa hampir mengenai dadanya, untung Randi berhasil mengelak.
“Kenapa, bingung? Gue rasa ini cukup
untuk melepas emosi loe, ayo terima ini.”
Sebuah tendangan bertubi dari dari
arah depan, berhasil dipatahkan, lalu Tifa mencoba menerobos pertahanan Randi
dengan menyerang hidung. Anak laki-laki itu sungguh gak mengira, ternyata
kelengahannya membaca situasi hampir bisa membuatnya terjungkal ke belakang.
Randi terpancing emosinya, dia mulai
membalik kedudukan. Kali ini dia ngasih serangan bertubi, dan dengan lincah
sesekali cewek itu berhasil menghindari. Beberapa kali Tifa memberi perlawanan.
Meski tendangan yang di lancarkan hanya setengah dari tendangan yang biasa
dilancarkan di sebuah arena, tapi serangan penutup dari Tifa membuat Randi
terjatuh. Tendangan berputar itu dengan telak menjatuhkan sekaligus membuatnya
kaget.
“Gila loe, Tif!” teriak Randi.
Tifa mendekati Randi. “Loe lengah,
kebanyakan mikir! Tapi, lumayan lah, banyak nyuri ilmu dari geup lain, gue rasa
kalau fight sama geup lebih tinggi loe gak akan terlalu terbata. God job!”
“Iya, dan gue gak nyangka loe seganas
itu, meski tenaga yang loe pakai Cuma setengah. Dasar Sabeum!”
“Siapa bilang setengah, full kali.”
“Kalau full, gue bisa gak sekolah
setengah bulan kali mulai dari besok.”
“Dasar lebay! Gimana mendingan?”
“Apanya?”
“Dada loe, yang nyesek-nyesek udah
mulai angkat kaki?”
“Lumayan. Jadi ini jawaban dari
cerita gue?”
“Terkadang kita harus bisa mengatur
kapan kita harus marah, kapan cukup diredam sendiri. Masalah hidup bisa
diibaratkan sebuah pertandingan Taekwondo. Loe tahu kelebihan dan kekurangan
diri loe sendiri. Kapan harus menyerang, kapan harus bertahan. Tapi, tetap
tenang dan konsentrasi. Sekali kita gegabah akibatnya fatal. Taekwondo unggul
di tendangan dengan target jauh berarti butuh ruangan luas untuk itu. Jadi,
saat pertarungan dan berada di area sempit kepadaian kita bertahan diuji, lawan
bisa kita pancing keluar ke area yang lebih luas. Serangan kita akan lebih
fokus dan bisa mematahkan lawan. Tapi, jika kita di area sempit kita hanya
diam, kita akan mati sebelum kita bisa memakai kemampuan kita sebenarnya.”
Randi mengangguk-angguk mendengar
penjelasan Tifa. Cewek itu melanjutkan sambil mengambil posisi duduk di rumput
tepat berdekatan dengan Randi yang akhirnya memilih tetap tiduran.
Komentar
Posting Komentar