SENDIRI DULU (enam puluh tiga)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/9218374231502665/

SENDIRI DULU (enam puluh tiga)

BLOG NURLAELI UMAR- “Udah jangan dipikirin, gak berlebih, kok!”

“Tapi itu bukan di arena, Ngga. Malu sendiri gue jadinya.”

“Loe gak pakai jurus satu pun. Semut aja kalau diinjak ngegigit.”

Tifa melihat ke arah Angga. Dia menggelengkan kepala. Angga terheran melihat tingkah Tifa.

“Ada yang aneh?”

“Sikap loe, sepertinya loe suka jika gue ngehajar Liana. Loe punya rahasia? Atau loe bekas pacarnya?”

 Angga terdiam, dia menunduk dalam. Karena apa yang ditanyakan Tifa benar adanya.

Tifa bangun dari duduknya, dia mengambil tali tasnya. Angga gak bisa mengelak, kalau tuduhannya adalah dia pernah berurusan dengan Liana, tapi dia bukan bekas pacar Liana.

“Gue cabut duluan!”

Tifa benar-benar pergi begitu saja, gak nunggu Angga bilang apa-apa. Dak! Tinju Angga ke meja terdengar cukup keras, dan membuat orang-orang yang berada di kafetaria menoleh ke arahnya. Karena, Angga tetap menunduk yang lain pun gak bereaksi lebih hanya sebatas itu saja.

Angga berjalan menuju kasir membayar semuanya, lalu berjalan ke luar menuju arah sekolah lagi untuk mengambil motor di parkiran. Hari yang buruk!

***

Tifa gak habis pikir, kenapa jadi seperti ini. Semua bahkan harus berhubungan dengan Liana. Termasuk Angga yang diam-diam ngasih peringatan agar berhati-hati dengan cewek itu dan Haris.

Tifbaru sadar waktu melihat pohon cemara yang letaknya gak jauh dari rumahnya, bahwa angkot yang dia tumpangin sudah melewati jalan masuk ke komplek rumahnya.

“Kiri!” teriaknya, membuat sopir mobil yang ditumpanginya meminggirkan ke sebelah sisi kiri jalan.

Tifa menggeleng-gelengkan kepala setelah turun dan membayar ongkos sewa sambil nyengir sendiri. Untung hanya sekitar seratus meter dari jalan masuk ke arah rumahnya . Ada-ada saja! Kekonyolan kuadrat untuk hari ini.

***

Salah satu anggota dojang menyerang Tifa memakai tendangan Dollyo Chagi, tapi sayang hari ini sabeum cantik itu lagi gak berselera untuk berlama-lama, dia mencounternya sama Dwi Hurigi. Dak! Lawannya jatuh kena tendangan.

“Pointnya empat, ingat itu!”

Tifa memang serius waktu mimpin latihan. Padahal, tanpa dobok, siapa yang menyangka gadis cantik berpembawaan tenang itu adalah seorang taekwondoin yang tangguh dan berdisiplin tinggi. Badannya yang langsing, kulitnya yang langsat dan menjulang tinggi lebih pantas untuk jadi None Jakarta.

“Ada apa, kamu?” tanya Tifa kepada Randi yang mendekat.

“Maaf, Sabeum, mau minta izin kencan nanti habis latihan.”

Tifa pura-pura berpikir keras, Randi terbawa suasana, dia diam sambil menunggu jawaban.

“Boleh, tapi harus bisa menang melawanku nanti.”

“Yah … itu sih bukan persyaratan. Ini serius, Beum!”

“Urusan apa? Mau konsultasi cinta, ya?” ledek Tifa.

“Beum ….” Terlihat Randi sedikit memohon. Tifa tertawa, dia memalingkan muka agar tawanya tak terlihat, lalu bersikap serius lagi.

“Iya.”






Komentar