SENDIRI DULU (enam puluh tujuh)
BLOG NURLAELI UMAR- Randi nyengir
saja bahkan tanpa satu patah kata pun menjawab pertanyaan Tifa. Mereka berdua
akhirnya benar-benar pergi menghilang di arah tikungan.
***
Sepanjang pelajaran dari jam pertama
sampai istirahat pertama mata Angga mencuri pandang ke arah Tifa yang berada di
baris kedua, dua baris di depannya sebelah kanan. Bel istirahat pertama sudah
berbunyi, tanpa menunda Angga mendekat ke bangku Tifa. “Mau ke kantin, Tif?”
Tifa mendongakkan kepalanya karena
saat itu dia sedang memasukkan peralatan tulisnya kedalam tas. Dia gak
berbicara atau bahkan tersenyum, matanya menghujam ke mata Angga. Anak lelaki
itu menjadi salah tingkah.
“Tif, loe masih marah sama gue?”
Belum sempat Tifa menjawab, Randi datang
mendekat. “Yees! Kita ke kantin Tif, Angga hari ini ulang tahun, kita minta
traktiran dobel.”
Tifa menatap kembali ke arah Angga
setelah pandangannya sempat menoleh ke arah Randi sebentar.
“Iya, gue ulang tahun, apa loe gak
bisa maafin gue? Bahkan di hari istimewa ini?”
Tifa menunduk melanjutkan memasukkan
buku terakhirnya, setalah itu dia bangun dari duduknya.
“Yuk!”
“Tif?” tanya Angga sedikit bingung.
“Jadi loe gak nganggap gue teman
lagi?”
“Syukurlah, gue kira loe masih
marah.”
“Wah, ada apa ini, kok gue gak tahu?”
tanya Randi menyela.
“Gue batalin traktir, nih, kalau
banyak tanya!” ancam Angga berseloroh.
“Teman-teman gimana, Ngga?”
“Loe kira gue cewek, yang dirayain
besar-besaran terus ngundang-ngundang?”
“Ya, gak harus cewek kali, kalau
punya uang banyak sih traktiran halal-halal aja.”
“Ya udah undang aja mereka ke
kantin.”
“Serius, Ngga?”
“Iya, loe yang bayarin. Kemarin ‘kan
loe ulang tahun.”
“Sialan, gue dikerjain!”
Senyum Tifa mengembang di bibirnya,
tapi bersamaan dengan itu Angga sudah menarik lengannya untuk cepat-cepat
meninggalkan Randi yang akhirnya tersadar kalau dia lagi dikerjai untuk kedua
kalinya. Randi mengejar langkah mereka, sebuah pukulan pura-pura menghujam
lengan kiri Angga.




Komentar
Posting Komentar