SENDIRI DULU (enam puluh)

 



SENDIRI DULU (enam puluh)

BLOG NURLAELI UMAR-

“Halo, ini siapa, gue ngantuk banget.”

Mata gadis itu langsung terbuka, kantuknya hilang entah ke mana. Tio?

“Ada apa malam-malam gini telepon?”

“Gak khawatir kok, kamu laki-laki.”

“Gak ada yang mau dibicarain ‘kan?”

“Soal anak perempuan itu?”

Tifa tertawa sinis. “Ya sudah kalau kamu gak mau, aku mau tidur.”

“Apa lagi?”

“Gombal!”

Tio pergi dan membuat khawatir ibunya lalu nularin ke Tifa, dan ketika Tio menelponnya mana tengah malam lagi, dia menelopon hanya untuk membicarakan Liana. Apa maksudnya? pikir Tifa.

Gadis itu makin gak ngerti dengan kalimat terakhir yang diucapkan Tio, “Selamat malam, Sayang.”

Ugh! Kantuknya benar-benar hilang, Tifa nyalain lampu ruang tengah, jalan ke arah kamar mandi. Suasana terasa sepi kecuali kamar kedua orang tuanya yang masih nyala. Itu pasti papa yang sedang berkutat sama buku. Baru aja Tifa mau masuk ke kamar mandi, mama menegurnya dari arah belakang, sedikit membuat jantungnya seperti mau copot.

“Yah … Mama, aku kaget!”

“Tumben bangun jam segini, biasanya jam tiga. Mau salat malam jam segini? Ya udah, tapi habis itu tidur lagi, jangan sampai bikin jadi kesiangan.”

“Ya, Ma.”

Mama bukan gak tahu kalau ada telepon yang masuk, tapi gak mau terlalu terlihat over protectif saja, meski khawatir dan tetap mengamati.

Setelahnya Tifa balik ke kamar dan mama kembali ke kamarnya.

***

Hari ini gak ada yang istimewa di sekolah, kecuali semua membicarakan kejadian Tifa sama Liana. Meski hampir sebagian besar ngedukung Tifa, tapi gadis itu seolah gak peduli.



Komentar