Image; https://id.pinterest.com/pin/42221315252604323/
SENDIRI DULU (lima puluh delapan)
BLOG NURLAELI UMAR- Haris tertawa,
Liana sedang serius sekali, bahkan lelucon yang dia lontarkan ditanggapi
serius. Liana tersentak, karena tiba-tiba kesadarannya kembali. Haris sedang menggoda
dia rupanya.
“Kakak!’
“Kenapa?”
“Aku serius, masa suruh ngacung di
perempatan.”
“Baru nyadar, ya?”
Liana jadi tertawa, dia memang sangat
cantik, itu juga yang membuat Haris mau menggantikan Randi, meski dia tahu
permasalahannya tentang penggantian guru les yang terkesan dibuat-buat itu.
Sebenarnya Haris hanya ingin mengetes
seberapa Tifa punya perasaan padanya. Tapi reaksi yang diinginkan gak kunjung
muncul.
“Loe bisa menilai diri loe sendiri
tindakan tanpa orang lain. Gue gak menyalahkan atau memihak. Loe hanya butuh
diam di kamar sendiri dan menelaah semuanya.“
“Aku tahu Kakak gak akan membelaku,
itu karena Kakak dekat dengan Tifa. Gak, aku gak ingin dibela, aku tahu diri,
kok. Tapi terimakasih gak menyalahkanku.”
“Kok jawabnnya gitu, ‘kan gue sudah
bilang gak memihak. Itu urusan antara cewek. Nanti kalau gue memihak, bakalan
disuruh pakai rok.”
Lelucon Haris ditanggapi dengan
senyum tipis. Liana ngerasa nyaman sama Haris.
***
Tifa lagi menikmati acara TV, waktu
ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk. Dibiarkan bunyi itu berulang sampai
empat kali. Acara drama Korea yang sangat disukainya lagi seru. Andai saja gak
sedang iklan, malas dia mengambil ponselnya dari atas meja, bahkan meski
berbunyi sampai sembilan kali pun. Malas saja.
Komentar
Posting Komentar