SENDIRI DULU (lima puluh dua)

 


SENDIRI DULU (lima puluh dua)

BLOG NURLAELI UMAR- Randi yang kemarin kaget karena Haris menggantikan dirinya atas permintaan Liana, sementara Liana gak ngasih tahu sama sekali sebelumnya, akhirnya paham apa maksud cewek bernama Liana dengan kepulangannya yang diantar Tio.

“Tif, mau lagi?”

“Tumben loe baik. Dapat pensiunan dari ngasih les Liana?”

“Loe tahu?”

“Awalnya gue gak ambil peduli, dan ingin marah apalagi lihat Liana ngegandeng tangan Tio di depan gue untuk pertama kali di kantin waktu itu. Tapi, sekarang gue peduli setidaknya sama diri gue.”

“Jadi loe ngelepasin Tio ke tangan Liana begitu aja?”

Tifa cuma tertawa, dia menikmati cup ke dua, karena Randi benar-benar membelikannya satu cup tambahan.

“Tif, kalau loe butuh bantuan bilang ke gue, gue ada kapan aja buat loe.”

“Tapi gue gak bisa bayar sebanyak yang Liana beri.”

“Tif, sungguh gue gak bermaksud nyakitin hati loe. Gue ….”

Randi merasa bersalah dengan memberikan les kepada Liana, yang berarti posisisnya dia memihak kepada gadis itu, meski sekarang gak lagi.

“Loe gak salah, gue juga gak nyangka ada gadis yang terobsesi sama gue. Mungkin gue cantik kali, Rand?”

 Tifa tersenyum, dalam hatinya dia menertawakan dirinya sendiri yang terlalu percaya diri..

“Loe memang cantik juga baik, pantas kalau ada orang yang iri.”

“Bercanda, loe tuh Rand, kalau gue cantik tentu gue gak jomlo gini, ada pacar yang nemenin gue saat gue lagi butuh dan sedih.”

Randi tahu ini bukan saatnya menyahuti perkataan Tifa. Tfa tidak sedang meratapi kesendiriannya, dia hanya sedang merasa gundah karena Liana.

“Kita pulang?”

Tifa mengangguk dan mengekor Randi hingga ke parkiran. Randi sesekali masih melihat ekspresi wajah Tifa, dia mencuri lihat lewat kaca spionnya.

“Gue baik-baik aja. Kalau gue butuh bantuan pasti gue akan lari ke loe,”

Jawaban yang membuat Randi malu karena ketahuan tapi sekaligus lega.

***

Istirahat ke dua di kantin. Anita teman yang lumayan dekat dan jago ngomong itu ngasih tahu Tifa perihal Liana yang semakin lengket sama Tio plus mepetin Haris.

Tifa tetap tenang. Dia mendengarkan setiap masukan tanpa menyela sedikit juga.

“Gimana menurut loe, Tif?”

“Makasih informasinya, gue belum bisa ngomong apa-apa. Gue lihat dulu perkembangannya. Iya, nanti gue pikirin. Yang penting sekarang kita makan mie ayam gratis ini, terus ngumpulin energi buat otak kita biar ulangan kimia gak remed.”

“Haha, bisa aja loe. Kalau gue udah gue jambak tuh rambut Liana.”

“Kalau cuma ngejambak, gue sih bisa aja.”

Teman yang lain yang ikut bergabung senyum-senyum saja. Tifa memang berotak encer, semua dipikirkan masak-masak ketika mengambil tindakan, tapi menurut mereka Tifa kali ini gak tanggap. Dan itu bikin mereka geregetan setengah mati.

Liana masuk ke kantin, teman-teman Tifa memandang tak acuh, bahkan cenderung jijik. Tifa tetap kalem seolah cewek itu gak terlihat. Liana terlihat memesan makanan dan minuman. Tifa yang merasa haus juga pesan minuman.

 Saat menuju tempat duduknya, entah setan apa yang bersemayam di benak Liana, gadis itu menabrakan diri. Brakk!!! Minuman yang dia pesan tumpah semua kena baju Tifa.

Semua yang ada di kantin sontak terkaget, mereka memandang ke arah Tifa, ingin melihat reaksi gadis itu. Tifa memandang tajam ke arah mata Liana.

Cewek itu bukannya minta maaf malah berlalu begitu saja. Tifa mengejar Lianadan menarik lengannya.

Image; https://id.pinterest.com/pin/346566133846249363/

Komentar