SENDIRI DULU (lima puluh empat)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/37506609390705771/

SENDIRI DULU (lima puluh empat)

BLOG NURLAELI UMAR- “Kak?”

“Oh, loe. Ada apa Li?”

“Ada waktu gak?”

Tio melambaikan tangan karena temannya berpamitan untuk pulang mendahuluinya. Sekarang hanya tinggal Tio dan Liana saja.

“Apa ini karena sikap Tifa?”

Liana memandang mata Tio mencari celah dimana sedikit empati masih ada. Sebab hari ini dia merasa butuh itu.

“Kak?”

“Kita bicara di kafetaria seberang jalan.”

Liana mengikuti langkah Tio, mereka menyeberang jalan menuju kafeteria.

Suasana seperti biasa banyak anak-anak yang kongkow di sana, Tio berjalan masuk. Matanya mencari tempat yang kosong. Tio menarik kursi dan Liana pun, mereka saling berhadapan dibatasi meja.

“Pesan apa?”

“Aku gak mau makan.”

Tio mengacungkan telunjuk da jari tengah tangan kanannya memberi tanda kepada pelayan yang kebetulan sedang mengangkati gelas dan mangkuk dari meja lain dekat dengan mejanya.

Dia kemudian memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh manis. Tio menatap Liana, cewek di hadapannya berbeda dengan biasanya. Matanya yang berbinar seperti jatuh cinta ketika bertemu dengannya sekarang gak ada. Mukanya itu ditekuk.

Tio tahu benar kejadian itu, karena saat Tifa menyeret Liana itu dia sedang berada di ruang sebelah. Ada keperluan karena dipanggil guru, dan sempat menyaksikan semuanya dengan jelas dari pintu yang menyambungkan dua ruangan itu.

Saat kejadian itu membuat peserta didik lain mengerumun di depan ruang guru, Tio cuma bisa diam. Tifa bukan cewek yang gampang marah, apalagi untuk hal sepele.

“Baksonya udah datang, makan, Li!”

Liana mengangkat muka. “Tapi saya mau curhat, sedih sekali hari ini.”

“Curhatnya nanti saja. Makan dulu. Habiskan dan es tehnya juga.”

Bakso di kafeteria ini memang luar biasa, mereka berdua bahkan terlihat larut dalam kelezatannya. Sesekali es teh manis diseruput di sela sendokan bakso dengan kuah panas dan sambal pedasnya.

Ketika Liana berusaha untuk mencari celah agar bisa curhat, Tio selalu terlihat sibuk menikmati kunyahan dan sensasi pedas, memberi tanda dengan tangan telapak tangannya yang diangkat agar Liana gak ngomong apa pun.

“Gimana enak?” tanya Tio yang terlihat menyudahi menyantap dengan mengusapkan tissue ke bagian luar mulutnya. Dia menangkupkan sendok dan garpu.

Makan bakso di terik begini dengan pedas yang pas dan sensasi teh manis menjadi pelengkapnya sudah selesai.

“Iya.”

“Kalau begitu kita pulang!”

Liana mendengus, tapi bagaimana lagi Tio sedang gak berselera mendengar keluhannya ditambah perutnya yang kenyang. Dia cuma bisa mengangguk dan mengikuti langkah Tio yang keluar dari kafeteria selepas membayar ke kasir.

Tio mengambil motor yang masih diparkir di parkiran sekolah. Liana mengekor Tio sampai depan pintu gerbang, ingin sekali tadi ketika menyeberang menggamit tangan Tio, tapi sepertinya cowok dihadapannya gak sedang ingin diganggu, seperti ada yang mengganggu pikirannya.



Komentar