SENDIRI DULU (lima puluh lima)
BLOG NURLAELI UMAR- Tifa? Tapi
bukankah mereka sudah putus, begitu yang didengarnya dari sahabat sekelasnya
tempo hari. Meski Liana tahu jika Tio masih ingin kembali. Buktinya Tio ada di
taman waktu Tifa latihan. Sebab setahu Liana, Tio datang bukan untuk dia saat
itu, meski akhirnya pulang barengan.
Liana juga tahu mata Tio selalu mencuri
pandang ke arah anak-anak yang sedang latihan taekwondo, lebih tepatnya kepada
sabeum yang sedang memimpin latihan.
“Saya tunggu di sini aja ya, Kak?”
“Oke.”
Sebentar kemudian Tio sudah berada di
depan Liana dan mereka berdua menembus keramaian jalanan menuju rumah Liana.
***
“Udah sampai,” ujar Tio sambil
menghentikan nyala mesin motornya.
Liana turun, dia berjalan dan
sekarang berdiri di samping muka motor Tio.
“Gak mampir?”
“Loe tahu kan gue mesti banyak
menghabiskan buku-buku, ini tahun terakhir buat gue.”
“Sebentar aja, saya mau bicara soal
tadi. Kejadian sama Tifa. Saya butuh teman curhat.”
“Kali lain aja, ya? Gue gak bisa,
maaf.”
“Ini karena Kakak masih punya hati
buat dia?”
Tio terdiam sebentar, kemudian dia
menyalakan motornya. “Gue cabut dulu, Li.”
Liana hanya bisa mengangguk lagi dan
lagi. Dia kecewa benar, ternyata Tio gak cuma gak peduli sama dia tapi masih
punya hati untuk Tifa.
***
Haris datang sekitar jam empat sore,
tepatnya jam empat lebih lima menit.
“Silakan duduk, mau di dalam atau di
sini seperti biasa?”
Komentar
Posting Komentar