SENDIRI DULU (lima puluh sembilan)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/31173422417147656/

SENDIRI DULU (lima puluh sembilan)

 BLOG NURLAELI UMAR- Dia malas karena itu pasti dari orang lain, ayah, ibu, dan kakaknya sedang ada di rumah semua. Kalau bukan dari Angga tentu dari Randi atau bahkan Haris, meski dua orang terakhir beberapa hari ini gak menghubunginya. Bagaimana kalau dari Tio?

Tifa memandang ponselnya dengan malas, iya bagaimana kalau dari Tio? Apa dia menelpon karena peristiwa tadi siang? Tifa tersenyum sinis, kebetulan, kalau itu benar dari dia.

Tifa itu sudah malas, dia berpikir bagaimana kalau sekalian marah yang dia perlihatkan kepada Liana diperlihatkan saja kepada Tio agar dia juga tahu bahwa dia sudah gak berminat berhubungan dengan mereka berdua?

Telepon diangkat. “Halo, selamat sore.”

“Iya saya sendiri. “

“Maaf, tante. Tio gak ada di sini.”

“Sama-sama.”

Tio kemana? Mengapa dia meninggalkan ponselnya di rumah. Mengapa aku yang dihubungi? batin Tifa.

“Matikan TV kalau mau ke kamar!”

“Eh, Mama. Iya.”

“Gak mau bicara sama Mama, berdua saja misalnya?”

“Enggak, udah ngantuk.”

Mama tahu benar anak gadisnya sedang punya masalah, tapi penolakan Tifa membuat mama harus menghargai sikap anak gadisnya untuk menyelesaikan sendiri tanpa bantuannya.

“Met malam, Ma. Eh ada Papa. Met malam ….”

Papa yang baru masuk menyusul mama membalas ucapan Tifa berbarengan dengan mama. Dan Tifa melangkah ke kamar membawa serta pikiran tentang Tio.

***

Tepat tengah malam handphone milik Tifa berdering. Cukup mengganggu, karena dia lagi pules-pulesnya tidur. Dengan mata setengah mencoba dibuka dan kantuk yang meraja, tangan kanannya meraba meja kecil di samping ranjangnya. Gak sempat melihat telepon dari siapa, dia hanya menyentuh terima.



Komentar