SENDIRI DULU (lima puluh tiga)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/68747771832/

SENDIRI DULU (lima puluh tiga)

BLOG NURLAELI UMAR- “Loe gak perlu minta maaf, karena bisa saja ini gak disengaja. Tapi, loe harus nyuci baju gue.”

“Kalau gue gak mau?” tantang Liana.

“Bilang aja loe gak bisa. Gue akan menutup masalah ini seolah gak pernah terjadi.”

“Gak mau!”

“Baik, kita selesaikan dengan baik-baik. Tapi, jangan nyesel.”

Tifa menarik lengan Liana, bahkan setengah menyeret gadis itu. Tifa melirik teman-temannya, mereka tahu apa artinya. Lalu Tifa meminta tukang minuman mengikutinya. “Ikut saya dulu sebentar!

Liana gak menyangka reaksi Tifa sedemikian hebatnya, dia ditarik oleh Tifa setengah diarak, mereka berdua berjalan menyusuri koridor yang penuh anak-anak menuju ruang guru. Kontan saja suasana menjadi ramai. Terdengar koor ‘huu’ sepanjang koridor.

Tifa mengetuk pintu ruang guru BP. Dia masuk menemui guru yang tengah sibuk berkutat dengan sebuah buku besar .

“Ada apa ini?”

“Dia menabrak saya, Pak. Saya cuma minta dia bersikap sewajaranya. Gak perlu meminta maaf karena mungkin gak sengaja. Saya hanya minta dia mencucikan baju saya. Tapi, dia jangankan keluar kata minta maaf, bahkan dia menolaknya sambil menantang.”

“Tapi gue gak sengaja kali.”

“ Benar, Pak. Saya benar-benar gak ngelihat dia. Atau mungkin malah dia yang sengaja melakukannya. Bisa saja, “kan?” Liana mencoba beralibi menyakinkan bahwa dia gak bersalah.

Guru itu terdiam membiarkan semua memberi alsannya. Tapi kesaksian tukang es memberatkannya, belum lagi barang bukti berupa baju Tifa yang basah kuyup. Mau gak mau akhirnya Liana meminta maaf atas sikapnya.

“Udah salah masih saja berkilah, hhh.”

 Tifa gak menuntut bajunya untuk dicucikan, itu hanya gertakan saja, karena setelah masalah itu diadukan dia minta izin untuk pulang. Angga dan Randi yang menunggu di depan ruangan guru menawarkan diri buat mengantar. Tifa hanya tersenyum.

“Kok cuma senyum?”

“Gue pinjem kunci motor aja, kalian ‘kan harus ikut ulangan kimia. Bentar juga gue udah balik kok.”

Angga mengulurkan kunci itu dan menatap Tifa tanpa ba-bi-bu lagi. Sahabatnya itu mengeluarkan cakarnya untuk bertindak, dia paham benar itu.

***

Liana gak menyangka reaksi Tifa sehebat itu. Selain mendapat kemarahan Tifa yang menakutkan dia juga merasa dipermalukan. Bahkan, sekarang keadaannya dalam posisi semua orang menyalahkan dirinya. Mereka yang melihat memandang seolah mengatakan; Loe konyol!

Liana cuma bisa diam waktu sahabatnya menyalahkannya. Dia merasa orang paling malang sedunia. Dia gak habis pikir gimana bisa Tifa memperlakukannya begitu buruk. Padahal, kesalahan yang diperbuat cuma untuk membuat gadis itu mengamuk saja, karena selama ini gak ada sedikit pun reaksi. Dia berpikir Tifa itu gak punya emosi.

Liana berpikir Tifa akan menggunakan kehebatannya sebagai seseorang yang menguasai seni bela diri, lalu akan dipersalahkan oleh semua anak di sekolah ini plus guru-guru, karena bereaksi berlebih atas kesalahan yang dilakukannya.

Dalam bayangan gadis itu Tifa akan menamparnya dan membuat bibir berdarah , lalu menjadi tontonan. Meski salah, dirinya tetap mendapat sedikit perhatian, dan gadis bernama Tifa itu mendapat malu. Lalu, timbul reaksi dari semua orang, bahwa Tifa marah karena kalah bersaing.

“Sialan! Padahal aku sudah jauh hari merencanankan ini, akhirnya meleset,” gumam Liana, sambil mendengarkan guru menerangkan pelajaran terakhir.

***

Liana melangkah bersama yang lain, pelajaran sudah habis dan bel sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Handphone layar sentuh model terbaru dia keluarkan dari dalam saku depannya. Dia menyentuh keypad, memanggil seseorang yang bisa membantunya di saat seperti ini. Reaksi Tifa tadi terhadap dirinya adalah tendangan telak diluar perkiraan yang membuat isi dada Liana memar-memar di dalam tanpa terlihat dari luar.

“Kak, ini aku.”

“Kak, bisa ke sekolah jemput aku?”

“Kenapa gak bisa?”

“Baiklah, aku pulang sendiri. Terimakasih.”

Haris yang dihubunginya hanya bilang gak bisa, kecuali memberi les di jamnya saja, ada keperluan begitu jawabnya. Di saat seperti ini mungkin alternatif ke dua adalah Tio. Dia itu mengubah arah langkah kakinya, menuju kelas di mana Tio berada. Belum sampai ke kelas yang dimaksud mereka berpapasan.

Image; https://id.pinterest.com/pin/68747771832/

Komentar