SENDIRI DULU (lima puluh tujuh)
BLOG NURLAELI UMAR- “Biasa
bagaimana?”
“Cantik dan pandai.”
“Lalu, kalau aku?”
“Kamu juga cantik dan pandai.”
“Kok sama.”
“Karena kenyataannya begitu.”
Liana menceritakan kejadian tadi
siang. Dia menyelidik wajah Haris, dia berharap cowok yang duduk di hadapannya
memberi empati. Dia butuh itu, cukup sudah dia dipersalahkan oleh sahabatnya
dan sikap Tio.
Haris tahu bagaimana Liana ini
merebut Randi, kemudian tanpa sebab yang bisa dimengerti dan alasan yang
terkesan dibuat-buat mengganti guru les menjadi dirinya, terus bagaimana dia
mengambil Tio dari Tifa. Bukan Haris jika gak pandai ngebaca situasi.
“Menurut Kakak bagaimana?”
Kening Haris terlihat berkerut.
“Masa begitu saja mesti berpikir? Itu
‘kan masalah kecil.”
“Nah itu loe tahu, jika masalah itu
kecil, kenapa mesti ditanyakan pendapat gue?”
Liana menatap gak percaya atas
jawaban Haris. Benar juga jika masalah itu kecil, untuk apa dia meminta nasihat
atau pandangan dari orang lain.
“Maksudku, aku ingin ada seseorang di
pihakku.”
“Tapi gue ‘kan gak berkomplot sama
loe saat itu.”
“Jadi, aku salah?”
“Gue gak bilang begitu.”
“Aku bingung.”
“Kalau gitu ngacung di perempatan.”
“Maksudnya?”
Image; https://id.pinterest.com/pin/736831189068575864/
Komentar
Posting Komentar