Monster Pembunuh (bab 43)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/6473993209419742/

Bab 43.

BLOG NURLAELI UMAR- ‘’Itulah alasannya aku mengulur waktu untuk tidak memberikan tanggal. Aku takut nantinya aku tidak ada waktu untuk merindukanmu, J. Aku akan sibuk setiap hari mengecek satu per satu mesin pengahasil uangmu.’’

J kembali memeluk M, kali ini benar-benar pelukan murni tanpa ciuman. Pelukan hangat tak mau kehilangan.

‘’Kalau mesin penghasil uangku membuatku lelah, kau boleh angkat tangan, tapi tak boleh angkat kaki dari hidupku. Biar aku yang akan mencari uang untukmu.’’

‘’Tidak, J, aku tahu kau yang terbaik. Tetaplah menjadi J-ku. Aku hanya bergurau saja.’’

J tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya ingin merasakan nyaman berpelukan dengan M. Dan, M membiarkannya. M tahu benar satu per satu arti pelukan dari J. Kali ini, sepertinya J sedang khawatir dengan keselamatan dirinya, lebih dari M terhadap dirinya sendiri, karena tembakan di kaca belakang mobil miliknya. Hanya saja J tidak mengatakannya.

Di saat yang bersamaan, handphone J yang ada di meja dekat sofa di mana mereka berdua sedang saling memeluk berbunyi, telepon kantor di meja M pun berbunyi. J mencium kening M dan melepaskan pelukannya sementara M bangun dan beranjak menuju meja kerjanya.

‘’Halo! Iya, baiklah.’’

Seseorang yang menelpon J mengirim laporan detail mengenai siapa pelaku yang dicurigai melakuikan penembakan terhadap mobil M. Pelakunya berbeda dengan pelaku penembakan mobil R dan A.

Kemungkinan yang diberikan oleh pengirim laporan adalah besar mereka dari agensi yang berbeda, bisa dengan pemesan yang sama bisa dengan pemesan yang berbeda. J mengatakan laporan diterima, sementara seseorang di seberang yeng menepon J menjanjikan laporan lebih detail secepatnya.

J tahu benar anak buahnya bisa diandalkan. Penjaga parkir bekerja dalam tim tersendiri yang tentunya semua ada laporannya kepada J tentang siapa-siapa saja mereka itu. J tidak ingin M athu banyak tentang laporan dari bawahannya. Apalagi M sepertinya sudah selesai dengan pembicaraan melaui  telepon di mejanya.

‘’Telepn dari supplier, katanya barang akan dikirim nanati sore. Aku bilang semua harus dilaporkan dengan tertulis kepada kepala toko. Aku ingin memastikan barang yang dikirim benar-benar sesuai kualitas dan jumlahnya.’’



Komentar