Puisi 64. Aku Bicara Seperti Orang Dewasa yang Seharusnya

 

Aku Bicara Seperti Orang Dewasa yang Seharusnya

Jakardah, 201024



 Image; https://id.pinterest.com/pin/16747829860647589/

BLOG NURLAELI UMAR- Aku sudah memberimu waktu agar kamu melipat jarak di antara kita menjadi sedemikian dekat.

Tapi, kau hanya ingat mata pelajaran origami, yang kau lipat adalah kertas warna-warni.

Penawaranku sia-sia, aku seperti biacara dengan anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Kau mengambil jarak kedekatan kita, sehingga kita hanya bisa berjalan satu arah saja.

Tanpa genggaman tangan, apalagi berpelukan.

 

Seiring wqaktu aku menjadi terbiasa, mungkin karena mau-tidak mau terpaksa harus bisa.

Aku dan kamu dengan jarak sedemikian rupa, terakhir kulihat kau menikung padahal kita seharusnya bisa lurus saja.

Meski akhirnya kita bertemu di ujung desa, aku menjadi apa dan kamu menjadi siapa.

Aku merasa asing, dan wajahmu terbaca asin penuh garam yang ditaburi orang lain.

Kamu menyebutnya sensasi berselingkuh tipis-tipis.

 

Setelah aku memutuskan dengan yang lain, kau merajuk meminta dibujuk.

Kamu kira yang kamu lakukan kemarin tidak membuat hatiku terluka.

Aku lebih bisa tidak setia dari pada kamu, tapi aku memilih tetap tidak ke mana-mana.

Seharusnya kamu tahu itu.

 

Sekarang aku sudah dengan yang lain, yang membuat aku bisa melihat warna biru langit.

Mataku menjadi terbuka, kalau mawar itu tidak berwarna kesedihan saja karena durinya.

Hariku penuh warna, dan aku menaggapi kesedihanmu dengan tidak merasa apa-apa.

Kalau hari ini kamu cemburu, coba datangi dokter, mungkin otakmu terganti otak-otak tanpa sengaja.



Komentar