Aku Bicara
Seperti Orang Dewasa yang Seharusnya
Jakardah,
201024
BLOG NURLAELI UMAR- Aku sudah
memberimu waktu agar kamu melipat jarak di antara kita menjadi sedemikian
dekat.
Tapi, kau
hanya ingat mata pelajaran origami, yang kau lipat adalah kertas warna-warni.
Penawaranku
sia-sia, aku seperti biacara dengan anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Kau mengambil
jarak kedekatan kita, sehingga kita hanya bisa berjalan satu arah saja.
Tanpa
genggaman tangan, apalagi berpelukan.
Seiring
wqaktu aku menjadi terbiasa, mungkin karena mau-tidak mau terpaksa harus bisa.
Aku dan
kamu dengan jarak sedemikian rupa, terakhir kulihat kau menikung padahal kita
seharusnya bisa lurus saja.
Meski
akhirnya kita bertemu di ujung desa, aku menjadi apa dan kamu menjadi siapa.
Aku merasa
asing, dan wajahmu terbaca asin penuh garam yang ditaburi orang lain.
Kamu menyebutnya
sensasi berselingkuh tipis-tipis.
Setelah aku
memutuskan dengan yang lain, kau merajuk meminta dibujuk.
Kamu kira
yang kamu lakukan kemarin tidak membuat hatiku terluka.
Aku lebih
bisa tidak setia dari pada kamu, tapi aku memilih tetap tidak ke mana-mana.
Seharusnya
kamu tahu itu.
Sekarang
aku sudah dengan yang lain, yang membuat aku bisa melihat warna biru langit.
Mataku
menjadi terbuka, kalau mawar itu tidak berwarna kesedihan saja karena durinya.
Hariku
penuh warna, dan aku menaggapi kesedihanmu dengan tidak merasa apa-apa.
Kalau hari
ini kamu cemburu, coba datangi dokter, mungkin otakmu terganti otak-otak tanpa
sengaja.
Komentar
Posting Komentar