SENDIRI DULU (enam puluh sembilan)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/617556167687235587/

SENDIRI DULU (enam puluh sembilan)

BLOG NURLAELI UMAR- Di tengah lahapnya mereka bertiga menikmati makanan pesanan, Randi menyela dengan bertanya,“Kalian ada apa kok, gue gak tahu?”

“Loe emang orang paling kepo se-dunia,” jawab Tifa kalem.

“Kalian jadian. Kok gue gak dilibatkan?”

Angga tersenyum, meski hatinya perih. Betapa dia selama ini mencari cara agar Tifa memberi sedikit ruang di hatinya, bukan hanya Tio saja. Sementara Randi merasa posisinya untuk melaju ke hati Tifa aman bersorak kegirangan, ada terompet yang ditiup jauh dalam angan. “Yess!”

“Loe kenapa, Rand?”tanya Tifa.

“Gak, gue lagi seneng….”

“Karena?” tanya Angga.

“Karena gue boleh minta dobel makanan, kali ini.”

“Dasar muka gratisan!” sahut Tifa.

 Randi terkekeh, dia berdiri untuk menambah porsi.

“Tambah, ya, Ngga? Satu porsi lagi.”

Angga mengangguk mengiyakan, dia tahu benar ke mana arah kata “yess” yang dimaksud Randi, tapi dia bisa apa, kecuali diam. Dia gak bisa menyalahkan siapapun menyukai Tifa, termasuk dirinya.

***

Tifa sudah lama gak ngebuka akun jejaring sosialnya. Kali ini dia sign up tiga sekaligus, Instagram, facebook dan twitter. Dan, biasanya hanya chatt di WA, saja, atau sesekali pakai Line. Beberapa kicauan dan status yang diposting di berandanya dia baca dan membuatnya senyum-senyum sendiri.

Beberapa kali ada yang membuatnya terdiam, mungkin itu tulisan yang mesti dibaca dua atau tiga kali. Sejurus kemudian Tifa membaca inbox yang masuk. Dari Tio, rupanya dia sedang on line di jejaring yang sama. Dia mengirimkan empat larik pesan puitisnya.

Bunga yang lepas dari genggaman membuat luka

Sebab durinya menancap di hati

Kenangan menyimpannya dengan air mata

Kembali, biar kupeluk selamanya dengan setia

“Ciee…ciee, kenapa bengong sendiri di depan laptop? Kurasa adikku tersayang lagi….”

Tifa menggangguk, “Iya, ini inbox dari Tio,” jawabnya sambil menggeser laptop.. Kakak Tifa membaca empat larik milikTio yang diperlihatkan kepadanya. Dia berbalik mata ke arah adiknya. “Dia minta balikan, dan kamu bingung?”

Tia terdiam, menunduk. Usapan lembut tangan kakaknya di punggung membuat dia mengangkat muka, kakaknya tersenyum da itu membuat Tifa merasa tenang.

“Kak, aku gak mau balikan sama Tio.”

“Meski puisinya romantis habis? Meski dia memohon setengah mati? Hmm, pasti ada apa-apanya?”

“Nggak, Kak. Aku gak sedang jatuh cinta sama siapa-siapa. Kakak dulu bilang, agar aku menjauh sementara, tapi setelah jauh aku bukan rindu, tapi merasa nyaman.”

“Apa sikap Tio gak berubah, meski kalian saling menjauh.”



Komentar