SENDIRI DULU (enam puluh sembilan)
BLOG NURLAELI UMAR- Di tengah
lahapnya mereka bertiga menikmati makanan pesanan, Randi menyela dengan
bertanya,“Kalian ada apa kok, gue gak tahu?”
“Loe emang orang paling kepo
se-dunia,” jawab Tifa kalem.
“Kalian jadian. Kok gue gak
dilibatkan?”
Angga tersenyum, meski hatinya perih.
Betapa dia selama ini mencari cara agar Tifa memberi sedikit ruang di hatinya,
bukan hanya Tio saja. Sementara Randi merasa posisinya untuk melaju ke hati
Tifa aman bersorak kegirangan, ada terompet yang ditiup jauh dalam angan.
“Yess!”
“Loe kenapa, Rand?”tanya Tifa.
“Gak, gue lagi seneng….”
“Karena?” tanya Angga.
“Karena gue boleh minta dobel
makanan, kali ini.”
“Dasar muka gratisan!” sahut Tifa.
Randi terkekeh, dia berdiri untuk menambah porsi.
“Tambah, ya, Ngga? Satu porsi lagi.”
Angga mengangguk mengiyakan, dia tahu
benar ke mana arah kata “yess” yang dimaksud Randi, tapi dia bisa apa, kecuali
diam. Dia gak bisa menyalahkan siapapun menyukai Tifa, termasuk dirinya.
***
Tifa sudah lama gak ngebuka akun
jejaring sosialnya. Kali ini dia sign up tiga sekaligus, Instagram, facebook
dan twitter. Dan, biasanya hanya chatt di WA, saja, atau sesekali pakai Line.
Beberapa kicauan dan status yang diposting di berandanya dia baca dan
membuatnya senyum-senyum sendiri.
Beberapa kali ada yang membuatnya terdiam,
mungkin itu tulisan yang mesti dibaca dua atau tiga kali. Sejurus kemudian Tifa
membaca inbox yang masuk. Dari Tio, rupanya dia sedang on line di jejaring yang
sama. Dia mengirimkan empat larik pesan puitisnya.
Bunga yang lepas dari genggaman
membuat luka
Sebab durinya menancap di hati
Kenangan menyimpannya dengan air mata
Kembali, biar kupeluk selamanya
dengan setia
“Ciee…ciee, kenapa bengong sendiri di
depan laptop? Kurasa adikku tersayang lagi….”
Tifa menggangguk, “Iya, ini inbox
dari Tio,” jawabnya sambil menggeser laptop.. Kakak Tifa membaca empat larik
milikTio yang diperlihatkan kepadanya. Dia berbalik mata ke arah adiknya. “Dia
minta balikan, dan kamu bingung?”
Tia terdiam, menunduk. Usapan lembut
tangan kakaknya di punggung membuat dia mengangkat muka, kakaknya tersenyum da
itu membuat Tifa merasa tenang.
“Kak, aku gak mau balikan sama Tio.”
“Meski puisinya romantis habis? Meski
dia memohon setengah mati? Hmm, pasti ada apa-apanya?”
“Nggak, Kak. Aku gak sedang jatuh
cinta sama siapa-siapa. Kakak dulu bilang, agar aku menjauh sementara, tapi
setelah jauh aku bukan rindu, tapi merasa nyaman.”
“Apa sikap Tio gak berubah, meski
kalian saling menjauh.”
Komentar
Posting Komentar