SENDIRI DULU (tujuh puluh delapan)

 


SENDIRI DULU (tujuh puluh delapan)

BLOG NURLAELI UMAR- Sebuah dering nada panggil memecah malam dan ritual sepinya. Disambarnya handphone yang terletak gak jauh dari jangkauan tangannya, di sisi sebelah kanan meja, lebih tepatnya di atas buku matematika yang sampulnya berwarna cokelat muda.

Di sentuh layarnya dan dibuka penguncinya, Tifa? Antara senang dan gak percaya Tio menerima panggilan masuk itu.

“Iya, ini gue. Kenapa, Tif?”

“Gugup? Engga, sedikit kaget karena barusan datangnya barengan kantuk.”

“Iya, ini baru mau tidur, met malem juga.Terimakasih.”

“Ya, terimakasih aja.”

Klik! Berakhir, meski sebentar tapi Tio merasa senang luar biasa. Yess!

***

Randi sudah datang, sebenarnya hanya lima menit labih awal dari Tifa dan belum sampai ke bangkunya. Dia tadi sengaja duduk menunggu di bangku panjang di luar kelas, sendiri sambil sesekali membalas sapaan teman kelas lain yang lewat dengan sedikit senyum.

“Rand?” tanya Tifa yang ternyata sudah datang dengan sedikit memasang muka kaget.

“Iya, gue ‘kan janji masuk hari ini?”

“Udah mendingan?”

“Gimana, ya? Gue rasa gue gak mau berlama-lama di rumah tanpa melihat cewek terjelek di sekolah ini.”

“Siapa, gebetan loe?”

“Loe lah, siapa lagi.”

Tifa terdiam, wajahnya sedikit memucat, dia ingat kejadian saat Randi menahannya.

“Ayo masuk, nanti lama-lama bisa jadi patung dan tambah jelek!”

Tifa mengangguk, mereka berdua masuk ke dalam kelas.

‘’Hari ini aku mau duduk bareng kamu. Bisa?’’

Tifa tidak bisa menolaknya. Meski perkataan Randi kemarin masih bergeming di benaknya. Akhiirnya Tifa menagguk. ‘’Tentu aja.’’

Randi tersenyum, Tifa melihat senyum Randi seperti berbeda dari hari yang lain. Semoga mataku yang salah, batin Tifa.

Komentar