Image; https://id.pinterest.com/pin/1477812373201104/
SENDIRI DULU (tujuh puluh dua)
BLOG NURLAELI UMAR- Tifa gak bisa
menolak. Apa sih yang gak bisa buat
sahabat? batinnya. Tifa berjalan menemani langkah Angga. Di belokan depan
Kelas Sosial, tiba-tiba Liana muncul. Dia menyapa, ”Gimana kuenya, suka?”
Angga terdiam, Tifa ambil bagian.
“Kuenya udah habis, dimakan
rame-rame, Li.”
“Oh, gitu ya? Apa enak, Tif? Itu
bikinan gue sendiri.”
“Enak sih, tapi Angga gak makan.
Katanya dia lagi sakit gigi. Kita jalan dulu ya, gue keburu lapar, tadi belum
sempat sarapan.”
“Eh, iya …iya.”
Angga yang bersikap dingin tertutupi
oleh jawaban Tifa. Mereka berdua melanjutkan langkah menuju kantin. Liana
terdiam sambil menatap gak percaya. Dia yang kecewa menjadi kecewa setengah
mati melihat tangan Angga mengambil pergelangan Tifa.
***
“Katanya gak lapar, kok pesan?”
Tifa terdiam, dilahapnya mie ayam
yang baru saja datang di mejanya.
“Gue tiba-tiba lapar, dan ini
gratisan, kenapa mesti nolak?”
“Terimakasih udah menyelamatin gue
dari kemalasan menjawab.”
“Bukan buat loe, tapi buat seorang
sahabat. Gue gak mau ikut-ikutan masuk ke kehidupan pribadi loe. Gak jujur itu
hak loe.”
Angga terdiam, dia hanya
mengaduk-aduk pesanannya tanpa semangat.
“Makan, Ngga! Mie ayamnya keburu
dingin. Gue gak apa-apa kok. Tadi kuenya enak, sayang loe gak makan.”
Angga mulai menikmati pesanannya.
Sampai suapan terakhir bahkan tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
“Bentaran lagi bel, ayo!” ajak Angga
sambil meraih tangan Tifa.
“Ngga?”
Komentar
Posting Komentar