SENDIRI DULU (tujuh puluh enam)

 


SENDIRI DULU (tujuh puluh enam)

BLOG NURLAELI UMAR- Tio membuka helmnya seketika melihat reaksi Tifa. Cewek itu tadi gak sempat melihat ke pintu pagar, jadi begitu berbalik badan ke arah pintu pagar dari menutup pintu depan dia kaget.

“Ini gue!” Teriak Tio menenangkan.

Tifa menggelengkan kepala sambil menertawakan dirinya sendiri.

“Yah, Kakak. Kali lain kalau mau jemput kirim pesan dulu atau telepon sebelumnya. Kalau gak sempat tadi malam, ya tadi pas mau ke sini.”

“Iya, maaf. Gue pikir loe akan suka, ternyata ….”

“Gue suka sih, terutama pas terlintas pengen  nyerang.”

“Dasar!”

Suasana sedikit mencair, sikap Tifa tidak seperti kemarin saat pergi ke rumah Randi. Tio merasa senang.

“Kok senyum-senyum? Lapar ya?”

“Enggak, seneng aja, ngebayangin kalau ternyata tadi loe ngeluarain jurus, bisa- bisa gue babak belur.”

“Hmm ....”

Tio berjalan ke arah motor diikuti Tifa, saat motor dipanaskan Tio sempat terlihat mencari sesuatu dengan matanya.

“Cari mama, ya? Ada di dalam gak ngantar, lagi sibuk sama nasi goreng.”

Tio mengangguk membenarkan, ini berarti dia gak perlu berpamitan.Mereka berdua berkendara menembus pagi.

Latihan kali ini lumayan banyak yang datang. Bekal sarapan yang dibawa Tifa dikasih ke Tio, tapi ternyata dari tasnya Tio membawa sesuatu yang selama ini disukai Tifa, mie goreng.

Sengaja Tio memesan makanan itu kepada ibunya semalam, dan minta ditambahakan beberapa cabai kecil utuh. Selain suka ketoprak, makanan kegemaran Tifa yang Tio tahu benar adalah mie goreng . Salah satunya mie goreng buatan ibunya.

Dulu ketika mereka masih dekat--meski Tio sedikit gak peka terhadap rasa cemburu Tifa, tetapi gak untuk urusan bekal latihan--beberapa kali dia membawanya, sama seperti pagi ini.

“Jadi kita makan bareng sehabis latihan, kita tukeran bekal? Nasi goreng mama itu paling enak sedunia.”

Tifa mengangguk menyetujui.

***

Komentar