SENDIRI DULU (tujuh puluh tiga)
BLOG NURLAELI UMAR- “Please, Tif. Gue
butuh loe.”
Tifa membiarkan sekali lagi tangannya digenggam Angga. Mereka bergandengan menyusuri koridor bersama anak lain yang masuk ke kelas masing- masing
Kurang sepuluh langkah sampai ke pintu kelas, mata Tifa bersirobok dengan mata Tio yang menatap ke arah tangannya yang digenggang Angga. Ada perasaan gak nyaman, tapi melepaskan genggaman Angga juga bukan sebuah sikap yang benar, ini akan melukai sahabatnya. Tifa membiarkannya saja. Tio seperti terbakar ceburu, mukanya memerah menahan emosinya. Angga segera tahu diri, dilepaskannya genggaman pada tangan Tifa, dia sedikit mengangguk meminta izin untuk masuk kelas.
Sekarang Tifa berhadapan sama Tio.
“Kak?”
“Gue nunggu loe, mau ngajak pulang
bareng.”
“Gak bisa, maaf.”
“Gak bisa apa gak mau?”
“Gue mau pergi sama Angga.”
“Jadi sekarang loe sama dia?”
“Bukan kencan, tapi mau ke rumah
Randi, dia sakit.’
“Oke, gue ikut. Jangan pergi sebelum
gue datang! Ntar gue kabarin.”
“Gak mau!”
“Gue ganggu?”
“Gue gak mau nunggu, kalau mau ikut
tunggu aja di pintu gerbang.”
Tio mengernyitkan keningnya. Belum sempat dia bertanya lagi, Tifa sudah berjalan masuk ke kelas. Anak lelaki itu hanya bisa menarik napas panjang.
***
Suasana rumah Randi sangat asri. Dua cemara
menjulang mengapit pintu gerbang, lalu tanaman merambat memenuhi dinding, beberapa
tanaman hias yang lain ditanam secara vertikal, tekhnik yang sama yang pernah
Tifa lihat di halaman sebuah majalah ibu kota dan di sekitar Tugu Tani.
Beberapa tanaman anggrek terlihat
terawat, ada taman kaktus dan beberapa hewan peliharaan dalam sangkar. Terlihat
ayam dan burung-burung. Tiga mobil berjajar dalam garasi, tentu berbeda dengan
mobil milik ayah Tifa.
SENDIRI DULU (tujuh puluh empat)
BLOG NURLAELI UMAR- Seorang Satpam
mengantar mereka melewati semuanya menuju ke pintu rumah. Ibu Randi ada
menyambut mereka.
“Oh, Nak Angga. Masuk!”
“Assalamualaikum, Tante.”
“Waalaikum salam, ini siapa?”
Angga memberi isyarat agar mereka berdua
memperkenalkan diri mereka masing-masing. Tifa dan Tio mengambil tangan tuan
rumah dan mencium punggungnya sebagai penghormatan. Lalu mereka menyebutkan
nama.
“Yang berdua ini belum pernah datang
kemari, ya?” tanya ibu Angga sambil menunjuk ke arah Tifa dan Tio.
“Iya belum, Tante,” jawab mereka
serempak.
“Wah, seperti koor saja,” sahut Ibu
Angga memecahkan kekakuan.
“Silakan masuk langsung ke kamar
Randi, nanti minumannya menyusul.”
“Terimakasih, Tante, maaf
merepotkan.”
“Tidak, Tante suka kok, Randi sering
bercerita tentang kalian, terutama anak cantik ini. Siapa tadi?”
“Saya, Tifa.”
“Oh iya. Silakan. Mas Haryo, tolong
antar mereka bertiga!”
Satpam yang dipanggil dengan Mas
Haryo itu mengangguk mendapat perintah.
Di kamar yang ditunjukkan Randi
sedang berbaring, dia tersenyum melihat kedatangan mereka bertiga. Wajahnya
masih sedikit pucat. Mereka masuk, duduk, dan berbicara banyak dari sekadar
basa-basi sampai hal serius, tentang sakit Randi yang ternyata sempat membuat
panik keluarganya karena pencernaanya yang bermasalah dan hampir membuat anak
lelaki itu harus berbaring menghadapi pisau bedah karena salah diagnosa.
“Kok, gitu?”
“Mana gue tahu, yang jelas setelah
konsultasi dengan dokter lain untuk mengambil pendapat ke dua. Dan ternyata
hasil pemeriksaan gue cuma sakit sedikit.”
“Mana ada sakit sedikit, memang loe
tergores? Memang apanya yang bikin mereka ngediagnosa sampai harus dioperasi
tadinya?
“Gejalanya nunjukin jika sakit gue
memang parah, semacam infeksi usus buntu. Padahal gue udah setengah mati nahan
biar gak teriak. Sakit banget!”
“Memang antara sakit yang satu sama yang lain terkadang nunjukin gejala yang
sama.Tapi syukurlah loe baik-baik aja.”
“Ya, sih. Makasih udah mau datang.
Loe juga, Kak.”
Orang yang dimaksud hanya tersenyum,
sambil mengangguk. Setelah banyak bicara akhirnya mereka berpamitan. Tapi Randi
mencegah Tifa.
“Tif, loe jangan pulang. Nanti biar
diantar supir gue. Gue ada perlu.”
Tifa memandang kedua teman yang tadi
datang bersama. Angga mengangguk tapi tidak dengan Tio. Dia terlihat sedikit
keberatan, karena dia terdiam.
“Kak, loe pulang bareng Angga.
Please!”
Akhirnya mau tidak mau, Tio harus
berucap, ”Iya.”
“Kita pulang duluan!” pamit Angga
sama Tio barengan.
***
SENDIRI DULU (tujuh puluh lima)
BLOG NURLAELI UMAR- Tifa berbaring
setelah tadi menghabiskan makan malam dan tiga puluh nomor fisika. Jadi yang
tahu bahwa Randi anak orang kaya itu ternyata cuma Angga, dia dan Tio saja.
Dan keterangan tentang Liana sedikit
membuatnya ngerti kenapa Randi mengkhawatirkannya. Gadis itu ternyata mempunyai
dendam sendiri. Liana ngebuka semuanya waktu Randi negur karena Liana bicara
buruk tentang dirinya. Tapi gak ada gambaran. Randi juga gak jelasin secara
rinci tadi. Yang lebih parah dia juga gak nanya secara detail.
Padahal selama ini selain kasus
tumpahan minuman yang membuatnya menyeret cewek itu ke ruang guru, dia gak
punya masalah apapun. Bahkan sebelum Randi bawa cewek itu ke toko buku bareng
Haris, dia gak ambil peduli sama cewekbernama Liana. Dan anehnya dendam itu
tumbuh dari awal mereka masuk SMA begitu pengakuan Liana ke Randi.
Dari semua kejadian tadi siang, pengakuan
Randi adalah yang paling mencengangkan. Randi ternyata punya hati lebih dari sahabat.
Tifa bingung dibuatnya, menolak sahabat lebih susah daripada berterus terang ke
Tio.
“Gue udah suka sama loe semenjak
kejadian sepatu loe nginjek sepatu gue di depan Mading.”
Tifa ingat kejadian itu, tapi sungguh
itu gak disengaja. Malu? Tentu saja, karena hampir semua yang lagi nunggu buat
membaca dan beberapa yang lewat ikut tertawa.
Lebih tepatnya malu karena pasti kaki
itu sudah lama dia injak. Setelah meminta maaf, semua menjadi berubah. Tifa
menjadi dekat sama Randi yang bisa diandalkan dan satu level pemikirannya. Tifa
mengakui dia merasa nyaman dengan Randi.
“Gue sayang sama loe, sungguh.”
Tifa hanya terdiam tadi siang.
Suasana menjadi kaku seketika bahkan sampai gadis itu berpamitan pulang.
***
Terdengar bunyi dentang, diliriknya
jam dinding yang berbentuk love dan berwarna hitam. Wah … pukul dua belas
kurang lima menit. Ingin rasanya gak tidur malam ini, tapi besok ada latihan
dan jatahnya memimpin. Gak lucu kalau melatih sambil terkantuk-kantuk.
Diambilnya selimut dilebarkan
keseluruh badan kecuali kepalanya. Selimut hadiah dari Tio, lebih tepatnya
hadiah ulang tahun Tio dari tantenya. Dikasih ke Tifa karena coraknya yang
bergambar boneka beruang Teddy dan latarnya yang pink. Sekilas wajah Tio
membayang mungkin karena sisa tadi siang, Tifa gak ingin memperpanjang.
***
Pagi ini Tio sudah berdiri di depan
pintu pagar. Selepas berpamitan dan memasukkan bekal---dobok dan nasi goreng dengan
sosis utuh sebanyak lima buah—kepala Tifa seperti kosong, bunyi motor Tio gak
terdengar.
“Aaa…!” teriak Tifa tertahan
Komentar
Posting Komentar