SENDIRI DULU (tujuh puluh tiga - tujuh puluh lima)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/211174975969576/

SENDIRI DULU (tujuh puluh tiga)

BLOG NURLAELI UMAR- “Please, Tif. Gue butuh loe.”

Tifa membiarkan sekali lagi tangannya digenggam Angga. Mereka bergandengan menyusuri koridor bersama anak lain yang masuk ke kelas masing- masing

Kurang sepuluh langkah sampai ke pintu kelas, mata Tifa bersirobok dengan mata Tio yang menatap ke arah tangannya yang digenggang Angga. Ada perasaan gak nyaman, tapi melepaskan genggaman Angga juga bukan sebuah sikap yang benar, ini akan melukai sahabatnya. Tifa membiarkannya saja. Tio seperti terbakar ceburu, mukanya memerah menahan emosinya. Angga segera tahu diri, dilepaskannya genggaman pada tangan Tifa, dia sedikit mengangguk meminta izin untuk masuk kelas.

Sekarang Tifa berhadapan sama Tio.

“Kak?”

“Gue nunggu loe, mau ngajak pulang bareng.”

“Gak bisa, maaf.”

“Gak bisa apa gak mau?”

“Gue mau pergi sama Angga.”

“Jadi sekarang loe sama dia?”

“Bukan kencan, tapi mau ke rumah Randi, dia sakit.’

“Oke, gue ikut. Jangan pergi sebelum gue datang! Ntar gue kabarin.”

“Gak mau!”

“Gue ganggu?”

“Gue gak mau nunggu, kalau mau ikut tunggu aja di pintu gerbang.”

Tio mengernyitkan keningnya. Belum sempat dia bertanya lagi, Tifa sudah berjalan masuk ke kelas. Anak lelaki itu hanya bisa menarik napas panjang.

***

Suasana rumah Randi sangat asri. Dua cemara menjulang mengapit pintu gerbang, lalu tanaman merambat memenuhi dinding, beberapa tanaman hias yang lain ditanam secara vertikal, tekhnik yang sama yang pernah Tifa lihat di halaman sebuah majalah ibu kota dan di sekitar Tugu Tani.

Beberapa tanaman anggrek terlihat terawat, ada taman kaktus dan beberapa hewan peliharaan dalam sangkar. Terlihat ayam dan burung-burung. Tiga mobil berjajar dalam garasi, tentu berbeda dengan mobil milik ayah Tifa.


SENDIRI DULU (tujuh puluh empat)

BLOG NURLAELI UMAR- Seorang Satpam mengantar mereka melewati semuanya menuju ke pintu rumah. Ibu Randi ada menyambut mereka.

“Oh, Nak Angga. Masuk!”

“Assalamualaikum, Tante.”

“Waalaikum salam, ini siapa?”

Angga memberi isyarat agar mereka berdua memperkenalkan diri mereka masing-masing. Tifa dan Tio mengambil tangan tuan rumah dan mencium punggungnya sebagai penghormatan. Lalu mereka menyebutkan nama.

“Yang berdua ini belum pernah datang kemari, ya?” tanya ibu Angga sambil menunjuk ke arah Tifa dan Tio.

“Iya belum, Tante,” jawab mereka serempak.

“Wah, seperti koor saja,” sahut Ibu Angga memecahkan kekakuan.

“Silakan masuk langsung ke kamar Randi, nanti minumannya menyusul.”

“Terimakasih, Tante, maaf merepotkan.”

“Tidak, Tante suka kok, Randi sering bercerita tentang kalian, terutama anak cantik ini. Siapa tadi?”

“Saya, Tifa.”

“Oh iya. Silakan. Mas Haryo, tolong antar mereka bertiga!”

Satpam yang dipanggil dengan Mas Haryo itu mengangguk mendapat perintah.

Di kamar yang ditunjukkan Randi sedang berbaring, dia tersenyum melihat kedatangan mereka bertiga. Wajahnya masih sedikit pucat. Mereka masuk, duduk, dan berbicara banyak dari sekadar basa-basi sampai hal serius, tentang sakit Randi yang ternyata sempat membuat panik keluarganya karena pencernaanya yang bermasalah dan hampir membuat anak lelaki itu harus berbaring menghadapi pisau bedah karena salah diagnosa.

“Kok, gitu?”

“Mana gue tahu, yang jelas setelah konsultasi dengan dokter lain untuk mengambil pendapat ke dua. Dan ternyata hasil pemeriksaan gue cuma sakit sedikit.”

“Mana ada sakit sedikit, memang loe tergores? Memang apanya yang bikin mereka ngediagnosa sampai harus dioperasi tadinya?

“Gejalanya nunjukin jika sakit gue memang parah, semacam infeksi usus buntu. Padahal gue udah setengah mati nahan biar gak teriak. Sakit banget!”

“Memang antara sakit yang satu sama  yang lain terkadang nunjukin gejala yang sama.Tapi syukurlah loe baik-baik aja.”

“Ya, sih. Makasih udah mau datang. Loe juga, Kak.”

Orang yang dimaksud hanya tersenyum, sambil mengangguk. Setelah banyak bicara akhirnya mereka berpamitan. Tapi Randi mencegah Tifa.

“Tif, loe jangan pulang. Nanti biar diantar supir gue. Gue ada perlu.”

Tifa memandang kedua teman yang tadi datang bersama. Angga mengangguk tapi tidak dengan Tio. Dia terlihat sedikit keberatan, karena dia terdiam.

“Kak, loe pulang bareng Angga. Please!”

Akhirnya mau tidak mau, Tio harus berucap, ”Iya.”

“Kita pulang duluan!” pamit Angga sama Tio barengan.

***

SENDIRI DULU (tujuh puluh lima)

BLOG NURLAELI UMAR- Tifa berbaring setelah tadi menghabiskan makan malam dan tiga puluh nomor fisika. Jadi yang tahu bahwa Randi anak orang kaya itu ternyata cuma Angga, dia dan Tio saja.

Dan keterangan tentang Liana sedikit membuatnya ngerti kenapa Randi mengkhawatirkannya. Gadis itu ternyata mempunyai dendam sendiri. Liana ngebuka semuanya waktu Randi negur karena Liana bicara buruk tentang dirinya. Tapi gak ada gambaran. Randi juga gak jelasin secara rinci tadi. Yang lebih parah dia juga gak nanya secara detail.

Padahal selama ini selain kasus tumpahan minuman yang membuatnya menyeret cewek itu ke ruang guru, dia gak punya masalah apapun. Bahkan sebelum Randi bawa cewek itu ke toko buku bareng Haris, dia gak ambil peduli sama cewekbernama Liana. Dan anehnya dendam itu tumbuh dari awal mereka masuk SMA begitu pengakuan Liana ke Randi.

Dari semua kejadian tadi siang, pengakuan Randi adalah yang paling mencengangkan. Randi ternyata punya hati lebih dari sahabat. Tifa bingung dibuatnya, menolak sahabat lebih susah daripada berterus terang ke Tio.

“Gue udah suka sama loe semenjak kejadian sepatu loe nginjek sepatu gue di depan Mading.”

Tifa ingat kejadian itu, tapi sungguh itu gak disengaja. Malu? Tentu saja, karena hampir semua yang lagi nunggu buat membaca dan beberapa yang lewat ikut tertawa.

Lebih tepatnya malu karena pasti kaki itu sudah lama dia injak. Setelah meminta maaf, semua menjadi berubah. Tifa menjadi dekat sama Randi yang bisa diandalkan dan satu level pemikirannya. Tifa mengakui dia merasa nyaman dengan Randi.

“Gue sayang sama loe, sungguh.”

Tifa hanya terdiam tadi siang. Suasana menjadi kaku seketika bahkan sampai gadis itu berpamitan pulang.

***

Terdengar bunyi dentang, diliriknya jam dinding yang berbentuk love dan berwarna hitam. Wah … pukul dua belas kurang lima menit. Ingin rasanya gak tidur malam ini, tapi besok ada latihan dan jatahnya memimpin. Gak lucu kalau melatih sambil terkantuk-kantuk.

Diambilnya selimut dilebarkan keseluruh badan kecuali kepalanya. Selimut hadiah dari Tio, lebih tepatnya hadiah ulang tahun Tio dari tantenya. Dikasih ke Tifa karena coraknya yang bergambar boneka beruang Teddy dan latarnya yang pink. Sekilas wajah Tio membayang mungkin karena sisa tadi siang, Tifa gak ingin memperpanjang.

***

Pagi ini Tio sudah berdiri di depan pintu pagar. Selepas berpamitan dan memasukkan bekal---dobok dan nasi goreng dengan sosis utuh sebanyak lima buah—kepala Tifa seperti kosong, bunyi motor Tio gak terdengar.

“Aaa…!” teriak Tifa tertahan

Komentar