SENDIRI DULU (tujuh puluh tujuh)

 


SENDIRI DULU (tujuh puluh tujuh)

BLOG NURLAELI UMAR- Latihan sudah selesai, Tio sudah siap menunggu Tifa ditambah senyum termanisnya.

“Kok murung? Biasanya gak begini, kenapa?”

“Gak… takut sosisnya ikut dituker.”

Tio terbahak karenanya. Dia masih mengingat semuanya, iya seperti ini dulu, dan dia ingin mengulang semuanya pelan-pelan.

Tifa menelan semua dengan sedikit enggan, kepalanya masih kepikiran perkataan Randi kemarin, meski dia cuma bilang suka. Hari ini tanpa Randi terasa sepi, padahal biasanya kalau anak itu gak datang gak seperti ini. Tia mulai mencerna semuanya biar sedikit benar tapi tetap tidak bisa. Rand, loe bikin gue jadi gak enak hati gini.

“Kok, bengong, nasi gorengnya keasinan ya?”

“Apa, Rand?”

“Sebentar … sebentar, ini gue Tio, bukan Randi.”

“Oh, iya maaf, Kak. “

“Memang Randi ngapain kemarin, kok kamu ditahan gak pulang bareng kita, maksud gue: gue sama Angga?”

“Ada sedikit omongan.”

“Dan efeknya sekarang loe manggil gue: Randi?”

Tifa mengernyitkan kening, kemudian dia menggelengkan kepala. Sejak kapan anak lelaki yang punya kadar kepekaan minim ini dijangkiti cemburu? batinnya.

 Tifa yang cekatan langsung menghabiskan mie goreng di tangannya, bahkan dia mencomot sosis dari nasi goreng di tangan Tio.

“Ayo kita pulang!”

Tifa melambaikan tangan memberi isyarat jika mereka berdua ingin duluan pulang, beberapa lain yang masih berkelompok membalas lambaiannya.

***

Tio berbaring di kamarnya, menikmati semuanya, meski insiden tadi membuat cemburunya meletup. Tifa gak seperti dulu yang meminta izin untuk melingkarkan tangan ketika diboncengnya, sekarang cewek itu hanya memeluk sedikit ujung bajunya. Kebiasaan yang cuma dimiliki Tifa dan Tio menyukainya.

 Satu per satu ingatan tentang mereka dulu berputar di kepalanya, Kesepian yang diberi cewek yang duduk di belakangnya selama ini, terlebih stas sikapnya tadi siang terasa sangat menyakitkan.

Gak ada yang seistimewa Tifa! Gak ada yang menelponnya jam lima tepat memastikan ini itu, gak ada yang menyapanya sekadar mengingatkan sudah larut, gak ada yang marah-marah ketika makan di mal karena cemburu.

Setiap dia ingin memulai dengan menemui Tifa, mencoba mendekat kembali,  selalu saja sahabat cewek yang duduk di belakangnya itu lebih dahulu menemani dan menempati posisinya, berjalan menuju gerbang lalu pulang atau bahkan sekadar menikmati makanan kesukaan di kantin sekolah.

Semua baru mendapat lampu hijau setelah hampir enam bulan usahanya, hari ini tepatnya. Ini adalah hari termanis. “Tif, gue sayang loe!” bisik Tio pada photo di meja belajar.

Komentar