BLOG NURLAELI UMAR- “Iya.”
Kakak perempuan Tifa itu menatap mata
adiknya dalam-dalam, “Itu adalah serba-serbi orang berpacaran,
putus-balikan-cemburu-marah-sakit hati, dan sebagainya. Tapi jujur, setelah
kamu menjauh dari Tio, Kakak menemukan kamu yang hilang. Meski di awal dulu
kamu terlihat terpukul.”
Tifa mencoba menyetujui dengan tersenyum.
“Jangan tersenyum mengiyakan, tapi
dicerna dulu.”
Tifa tahu ini bukan saatnya bercanda,
kakaknya sedang serius membantunya. Padahal tadi ingin dia menimpalinya dengan
sedikit gurauan.
“Tentang perasaan sedih dan
kehilangan itu wajar, bahkan kamu dulu pernah menangis, karena kehilangan
bonekamu selama tiga hari. Tapi, setelah itu lambat laun kamu bahkan
menertawakan reaksi sedihmu yang berlebih.”
“Jadi keputusanku benar?”
“Tanya hatimu, bukan tanya kakakmu.
Kamu pasti tahu mana yang membuatmu sedih atau bahagia. Jangan pernah merasa
terpaksa dalam menentukan pilihan.”
“Kalau aku kembali, apa Kakak gak
marah?”
“Enggak, karena orang yang sedang
jatuh cinta atau patah hati tidak butuh untuk dinasihati.Tapi, dibiarkan
memilihnya untuk tinggal atau pergi karena dia jujur pada diri sendiri.”
“Terimakasih nasihatnya, Kak.”
“Acara nangisnya gak ada, ya, kecuali
ada masalah selain Tio-mu?” tanya Kakak Tifa membaca.
“Iya, ini bukan menangis, tapi kran
airmatanya buka sendiri.”
Kali ini giliran Tifa yang dipeluk
kakaknya erat-erat. Meski, membaca ada masalah yang sedang dihadapi adiknya,
dia gak ingin membuat adiknya kehilangan privasinya atau ruang untuk memutuskan
dan bertindak. Membiarkan adiknya belajar menghadapi masalahnya sendiri adalah
hal bijak, karena hidup memang begitu. Masalah membuat orang belajar dan
menjadi kuat.
“Jangan lupa, sikat gigi dan matikan
lampu kalau mau tidur.”
“Yelah, aku itu anak SMA. Kakak kira
aku anak TK, pakai yang begitu diingetin.”
“Tapi ‘kan, yang begitu itu yang
sepele dan suka dilupakan padahal berlaku untuk semua seumur hidup.”
“Iya, iya, kalah deh kalau udah
bicara sama Kakakku tercinta.”
“Anak baik.”
Kontan saja Tifa melemparkan guling
ke arah kakaknya yang sudah beringsut dari dekatnya dan sedang menutup pintu
meninggalkan kamar. Dia tertawa, karena ternyata guling itu dilemparkan kembali
ke arahnya dan kakaknya menghilang secepat kilat dari kamar.
***
Kejutan pagi ini terjadi di kelas XI
IPA 2. Ada penampakan cewekyang pernah menjadi pusat perhatian gara-gara
diseret Tifa ke ruang guru. Benar, dia adalah Liana. Cewek itu berdiri di
samping pintu kelas, dia membawa sebuah kotak. Tifa sudah sampai di depan
pintu, dengan tenangnya dia bertanya seolah gak pernah terjadi apa- apa. Meski
dia sebenarnya sedikit heran dengah tingkah Liana.
“Ngapain pagi-pagi di sini?”
“Mau nitip ini.”
“Buat?”
“Angga.”
Tifa meniup udara di depannya dengan
bibir bawah dimajukan sedikit pelan-pelan.
“Kasih sendiri aja, bentar lagi juga
datang.”
“Gak bisa nitip, ya?” kejar Liana
melihat Tifa melenggang di depannya.
Langkah Tifa terhenti, ”Gak!” jawaban
itu dilontarkan sedikit tandas. Lalu
melenggang kembali. Baru saja
duduk,anak-anak yang lain mendekat ke tempat duduk
Tifa.
“Ngapain dia, Tif?”
“Mau nitip kado buat Angga.”

Komentar
Posting Komentar