SENDIRI DULU (tujuh puluh)

 



BLOG NURLAELI UMAR- “Iya.”

Kakak perempuan Tifa itu menatap mata adiknya dalam-dalam, “Itu adalah serba-serbi orang berpacaran, putus-balikan-cemburu-marah-sakit hati, dan sebagainya. Tapi jujur, setelah kamu menjauh dari Tio, Kakak menemukan kamu yang hilang. Meski di awal dulu kamu terlihat terpukul.”

Tifa mencoba menyetujui dengan tersenyum.

“Jangan tersenyum mengiyakan, tapi dicerna dulu.”

Tifa tahu ini bukan saatnya bercanda, kakaknya sedang serius membantunya. Padahal tadi ingin dia menimpalinya dengan sedikit gurauan.

“Tentang perasaan sedih dan kehilangan itu wajar, bahkan kamu dulu pernah menangis, karena kehilangan bonekamu selama tiga hari. Tapi, setelah itu lambat laun kamu bahkan menertawakan reaksi sedihmu yang berlebih.”

“Jadi keputusanku benar?”

“Tanya hatimu, bukan tanya kakakmu. Kamu pasti tahu mana yang membuatmu sedih atau bahagia. Jangan pernah merasa terpaksa dalam menentukan pilihan.”

“Kalau aku kembali, apa Kakak gak marah?”

“Enggak, karena orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati tidak butuh untuk dinasihati.Tapi, dibiarkan memilihnya untuk tinggal atau pergi karena dia jujur pada diri sendiri.”

“Terimakasih nasihatnya, Kak.”

“Acara nangisnya gak ada, ya, kecuali ada masalah selain Tio-mu?” tanya Kakak Tifa membaca.

“Iya, ini bukan menangis, tapi kran airmatanya buka sendiri.”

Kali ini giliran Tifa yang dipeluk kakaknya erat-erat. Meski, membaca ada masalah yang sedang dihadapi adiknya, dia gak ingin membuat adiknya kehilangan privasinya atau ruang untuk memutuskan dan bertindak. Membiarkan adiknya belajar menghadapi masalahnya sendiri adalah hal bijak, karena hidup memang begitu. Masalah membuat orang belajar dan menjadi kuat.

“Jangan lupa, sikat gigi dan matikan lampu kalau mau tidur.”

“Yelah, aku itu anak SMA. Kakak kira aku anak TK, pakai yang begitu diingetin.”

“Tapi ‘kan, yang begitu itu yang sepele dan suka dilupakan padahal berlaku untuk semua seumur hidup.”

“Iya, iya, kalah deh kalau udah bicara sama Kakakku tercinta.”

“Anak baik.”

Kontan saja Tifa melemparkan guling ke arah kakaknya yang sudah beringsut dari dekatnya dan sedang menutup pintu meninggalkan kamar. Dia tertawa, karena ternyata guling itu dilemparkan kembali ke arahnya dan kakaknya menghilang secepat kilat dari kamar.

***

Kejutan pagi ini terjadi di kelas XI IPA 2. Ada penampakan cewekyang pernah menjadi pusat perhatian gara-gara diseret Tifa ke ruang guru. Benar, dia adalah Liana. Cewek itu berdiri di samping pintu kelas, dia membawa sebuah kotak. Tifa sudah sampai di depan pintu, dengan tenangnya dia bertanya seolah gak pernah terjadi apa- apa. Meski dia sebenarnya sedikit heran dengah tingkah Liana.

“Ngapain pagi-pagi di sini?”

“Mau nitip ini.”

“Buat?”

“Angga.”

Tifa meniup udara di depannya dengan bibir bawah dimajukan sedikit pelan-pelan.

“Kasih sendiri aja, bentar lagi juga datang.”

“Gak bisa nitip, ya?” kejar Liana melihat Tifa melenggang di depannya.

Langkah Tifa terhenti, ”Gak!” jawaban itu dilontarkan sedikit tandas. Lalu

melenggang kembali. Baru saja duduk,anak-anak yang lain mendekat ke tempat duduk

Tifa.

“Ngapain dia, Tif?”

“Mau nitip kado buat Angga.”

Komentar