SENDIRI DULU (tujuh pu;uh satu)

 


SENDIRI DULU (tujuh pu;uh satu

BLOG NURLAELI UMAR- “Gila, dia tebal muka dan loe juga manusia dingin tanpa rasa,” celetuk Anita yang tiba-tiba datang tanpa diundang dengan sedikit emosi.

“Loe kenapa Nit, mules apa mau muntah?” tanya Tifa sambil tersenyum tipis.

“Bukan, pengen ngejambak rambutnya tapi gue malas berurusan sama loe. Kalau gue jadi loe udah gue usir dia dari depan pintu.”

“Tapi ini sekolahan bukan punya gue.”

“Dasar, Tifa!” Tanpa dinyana sebuah cubitan mendarat di pipi Tifa. Dia mengaduh.

“Apa-apaan, Nit? Pipi gue sakit, ‘ntar gak cabi lagi!”

Yang lain tertawa, mereka ikut berempati sama Tifa atas kelakuan Liana yang menurut mereka kegenitan dan gak punya isi kepala. Tapi sikap Tifa yang tenang setidaknya membuat mereka ikut tenang. Diam-diam mereka berharap Tifa memberi komando darurat perang!

“Lihat tuh, Angga datang!” kata Anita. Tapi kalimat itu hanya bisa di dengar beberapa yang ada di sana, di sekitar Tifa tepatnya. Mereka bersamaan menoleh ke arah pintu.

Terlihat Angga sedikit berbicara dengan Liana, tapi terbaca menolak. Liana terlihat memohon dan akhirnya Angga menerima kotak itu. Cewek itu mengaggukkan kepala dan pergi.

Angga masuk ke kelas, lima menit kemudian bel masuk berbunyi. Dengan kado di tangan kanannya dan tas di punggung dia mencari Tifa dengan matanya. Matanya menunjukkan rasa bersalah. Angga gak mendekat tapi berdiri tepat di depan kelas.

Anak-anak yang lain tampak tersihir menanti, antara ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang bakalan terjadi.

“Ini hadiah dari Liana, kalian boleh buka. Katanya ini kue tart. Gue gak suka makanan yang manis-manis. Ini untuk kalian.”

Anak-anak melihat ke arah Tifa, ”Kalian ini, makanan itu gak ada urusannya sama gue. Itu insyaallah halal, kalau kalian suka, silakan makan aja. Gue gak apa-apa kok. Cuma….”

“Cuma apa Tif?” tanya anak yang lain.

“Cuma gak bisa sekarang. Kalian kelamaan mikir, tuh lihat sudah ada guru yang bakal ngisi pelajaran!”

Benar saja terlihat dari kaca guru datang menuju ke kelas, dan kue tart itu mesti ditunda untuk dinikmati. Angga tersenyum ke arah Tifa. Sebenarnya yang dialami Tifa gak seperti itu, ada sakit yang mendera di hatinya, tapi dia gak ingin semua teman menjadi gak rasional hanya karena berempati sama dia. Tifa menyembunyikannya dalam lipatan senyum dan binar matanya. Pura-pura yang sempurna!

***

Randi gak datang hari ini, Tifa gak tahu gimana reaksinya melihat tingkah Liana. Praduganya atas ada apa-apa antara Angga dan Liana yang kemarin sempat ditepis cowok itu, bahkan dengan meyakinkan ternyata dijawab dengan sangat gamblang.

Istirahat pertama akhirnya datang juga. Gak ada yang berani buka kardus itu. Akhirnya kotak kue dibuka dan dibagi-bagikan sama Tifa, dia menyisakan satu untuk Angga.

“Ini kuenya, Ngga. Loe kan yang ulang tahun.”

“Kasih ke yang lain aja.”

“Tapi ….”

“Temenin gue ke kantin, gue laper.’’

“Gak mau, gue mau ngomong sama Randi.”

“Dia sakit loe gak baca suratnya? Nanti pulang sekolah kita ke rumahnya bareng. Masih nolak nemenin gue?”

“Gimana ya… gue gak lapar soalnya, sama yang lain aja.’

“Maksud loe gue harus sama Liana?”

“Kok jadi gitu, kenapa loe marah? Mestinya kan gue ….”

“Karena loe gak marah, itu bikin hati gue sakit. Omongan gue terpatahkan begitu saja, kalau gue gak ada apa-apanya sama Liana dengan kejadian dia kasih kue dan sikap loe yang dingin.”

“Gue ….”

“Temenin gue, itu cukup berarti buat gue dan persahabatan kita.






Komentar