MONSTER PEMB (bab 49)

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/40673202879033171/

Bab 49

Seseorang mendekati meja di mana M memperhatikan semuanya. Laki-laki tampan, mungkin umurnya sekitar empat puluhan tahun. Dia memakai seragam sama seperti yang lain, hanya saja ada semacam tulisan dari bordiran yang melekat di dada kanan atas baju yang dia kenakan.

‘’Anda kepala koki?’’

‘’Benar sekali, perkenalkan nama saya T.’’

‘’Sepertinya Anda blasteran. Mungkin ada campuran darah Jepang, melihat nama Anda.’’

‘’Benar sekali. Saya bertugas di restoran yang lain. Tuan J memerintahkan saya datang ke sini untuk mendampingi Anda.’’

M mengangguk. ‘’Baiklah, apakah itu berarti aku harus pergi berkeliling dan kemudian sibuk dengan data-data di layar komputer?’’

‘’Sedikit. Setidaknya saya akan banyak menjelaskan hal-hal yang tuan J inginkan, dan saya rasa itu cukup membantu Anda.’’

‘’Baiklah, kali ini aku akan menurut.’’

Orang itu, yang mengaku bernama T tersenyum melihat tanggapan M, yang jauh dari kata angkuh itu. T mau tdak mau harus mengakui kalau J memang pandai memilih pendamping, setidaknya calon pendamping.

T tidak tahu pasti apakah M mengenal sisi lain Tuan J, sisi lain seseorang keolaa agen pelenyapan nyawa. Orang seperti T yang punya keahlian di bidang masak-memasak, tahu benar siapa Tuang J, karena meski dia tidak menjadi salah satu yang bertugas melenyapkan nyawa, tetapi dia masuk ke dalam agensi Tuan J. T adalah orangnya Tuan J, sama seprti pekerja lain di bisnis tuan J. Orang-orang professional dengan nasib yang ditanggung, dan dalam pelindungan Tuan J, sekaligus terikat dalam sebuah kesepakatan.

Mereka berdua kemudian keluar untuk berkeliling. T menjadi pemandu yang sangat professional. Dia menjelaskan banyak hal tentang restoran, baik tentang restoran di mana dia bekerja dan restoran di mana sekarang mereka berada.

‘’Apakah restoran ini juga bergantung kepada Anda?’’ tanya M keoada T.

‘’Tidak, tentu saja tidak. Hari ini kepala cheff sedang sibuk dengan tugasnya, sementara saya bertigas shift malam di tempat saya bekerja. Saya sebelumnya bekerja di sini dan di-rolling ke tempat baru. Tuan J mempercayai saya di cabang yang baru dibuka tiga bulan yang lalu.’’

M menagngguk, meski dia sedikit terkejut. Ternyata banyak sekali kepemilikan J yang M tidak tahu menahu. Di saat seperti ini M akan bersikap tenang seolah dia tahu tentang bisnis J, agar tidak menimbulkan kesan dia tahu sama sekali. M memilih untuk lebih banyak bertanya tentang restoran yang sedang M datangi dan membiarkan kepala koki restoran lain itu menjelaskan. M tidak bertanya hal-hal di luar restoran yang kali ini dia datangi.

J sangat tertutup. Dan, M memilih untuk tidak penasaran, pun dengan restoran yang T pegang, karena dia sendiri sudah kewalahan dengan mengelola bisnis tiga coffee shop-nya, ditambah bekerja di toko bunga milik A meski dengan cara hybrid, sesekali jika diperlukan akan datang ke toko bunga atau mendatangi klien bersama A, tetapi lebih banyak mengerjakan rancangan bunga dari rumah atau di waktu senggang peerjaan coffee shop-nya.



 

 

 

 

Komentar