Link image; https://id.pinterest.com/pin/3799980929772144/
SENDIRI DULU (delapan puluh dua)
BLOG NURLAE:LI UMAR- Angga menyeruput
teh tawar di samping kanan piring ketopraknya. Dia mengaduk ketoprak itu dan
menyuapkannya ke mulutnya, sedang Tifa masih mematung memerhatikan tingkah anak
lelaki di depannya.
“Kalau loe gak mau makan, jangan
diaduk-aduk. Ceritanya di-cancel aja. Kali lain.”
“Iya gue makan.”
Akhirnya cewek itu menyuapkan ketoprak ke
mulutnya. Melihat itu semua Angga tertawa. Dia mulai bercerita. Angga dan Liana
berteman sejak mereka kelas sembilan. Mereka sekolah di sekolah yang sama,
sebuah SMP Negeri dekat dengan rumah mereka.
Liana gadis pendiam dan tertutup,
bahkan cenderung hanya bicara jika ditanya saja. Sedang Angga sebaliknya. Nilai
Angga di mata pelajaran gak berbeda jauh dengan nilai Liana. Bahkan urutan
ranking mereka di kelas berurutan, satu untuk Angga dan dua untuk Liana.
“Oh, jadi loe dulu kenal dekat, ya?
Jangan-jangan loe jadian, dan Liana bikin ulah karena loe?”
“Mau diterusin nggak? Gue buka dulu
semuanya, karena loe harus tahu. Apa pun penilaian loe tentang gue, terserah!
Yang penting gue gak punya hutang sebagai sahabat loe. Gue gak mau jika pun
putus persahabatan kita, gue diposisi yang gak jujur.”
Tifa melihat ke wajah Angga. Gadis
itu menganggukkan kepala mengiyakan, kemudian dia menjawab, ”Iya, gue dengerin,
kok.”
Angga meneruskan ceritanya. Entah
Angga yang merasa atau memang begitu adanya, sikap Liana pada Angga berbeda,
bukan pendiam seperti yang diperlihatkan kepada teman lainnya. Sesekali ketika
Angga melihat ke arah Liana, anak perempuan itu ternyata melihat ke arahnya.
Tapi ketika Angga menyapa atau bertanya di depan teman sekelasnya Liana
menunjukkan sebuah kebencian. Meski pertanyaan atau sapaan itu dijawabnya.
Sampai suatu hari hanya mereka berdua
yang tertinggal di kelas, karena teman yang dapat jatah piket memilih pulang
duluan alias kabur, Liana bilang kalau dia menyukainya. Tentu saja bikin kaget,
karena Angga cuma mengaggap Liana sebagai teman tanpa perasaan lain, juga
mengingat sikap bedanya selama ini.
Liana mengakui jika sikap sinis yang
diperlihatkan selama ini hanya topeng belaka, karena dia ingin mencari
perhatian Angga yang bahkan gak pernah datang sebagai seorang kawan, kecuali
sebatas basa-basi kesopanan.
Komentar
Posting Komentar