SENDIRI DULU (delapan puluh lima)
BLOG NURLAELI UMAR- Pada kenaikan
sabuk, masing-masing tingkatan sabuk harus menguasai gerakan taeguk/pattern/gibbon
tertentu, selain nanti akan di tes kesempurnaan menguasai tekhnik tangan,
tekhnik kaki atau tendangan, tendangan target, sikap berdiri, kuda-kuda, ketahanan,
terminology, spirit, push up, sit up, back up, kelenturan dan sparring atau kyorgi.
Tapi, untuk sabuk hitam ada tes
khusus dan tingkatan tersendiri, karena untuk sabuk hitam tingkatan “Dan”
bahkan sampai sembilan tingkatan. Untuk mendapatkan tingkatan ”Dan” setelah
kita mendapatkan sabuk hitam, ada semacam tes nasional dan internasional.
Taekwondo lebih menumpukan kekuatan
pada tendangan, dan sedikit pukulan. Gerakan tendangan dari menghadapi lawan
dari jarak dekat sampai lawan jarak jauh, atau lawan dengan ketinggian tertentu
mempunyai gerakan yang berbeda-beda. Dibuat sedemikian rupa untuk keefektifan
serangan.
“Beum, kita sudah cukup untuk latihan
hari ini?” tanya seorang anggota bersabuk merah.
“Baiklah, kumpulkan mereka untuk
diberi pengarahan seputar kenaikan sabuk. Akan dipandu oleh sabeum yang lain.”
“Baiklah.”
Tifa gak ikut bergabung dalam
lingkaran, dia terlalu lelah. Dia hanya memerhatikan dari jarak sepuluh meter,
duduk di bawah rimbun pohon. Tampak sabeum nim atau sabeum ketua memberikan
pengarahan, sesekali terdengar jawaban iya dan tidak, lalu terlihat bertepuk
tangan. Semoga semua berjalan lancar,
batin Tifa sambil tersenyum senang.
Setelah para anggota bubar satu
persatu dari lingkaran, Randi tampak berjalan mendekat ke arah Tifa.
“Udah gak latihan ‘kan? Udah bubar.”
“Terus?”
“Gak, cuma gue mau bagi ini.”
Randi mengulurkan sebuah kotak. Tifa tahu,
jika masih latihan Randi akan menjaga jarak dengan sendirinya, entah itu cara
bicara maupun sikapnya. Tapi, kali ini latihan sudah usai.
“Apa ini?”
Komentar
Posting Komentar