image; https://id.pinterest.com/pin/70437489340640/
SENDIRI DULU (tujuh puluh sembilan)
BLOG NURLAELI UMAR- “Angga, jelek!
Dasar!” Anak-anak lain yang sudah datang menoleh ke arah meja di mana ada Angga
dan Tifa di sana.
“Ngapain, Tif? Pagi-pagi udah girang
aja, mana sambil teriak-teriak lagi.”
“Si Angga juga tumbenan pagi-pagi
ngapel,” balas yang lain.
“Dapat lotre loe, Tif? Gue nyontek
juga donk, nomor terakhir susah banget!” seru salah satu yang lain.
Tifa cuma nyengir, sambil melihat ke
arah yang menyeletuk.
Ada yang berbeda, Randi tampak kalem,
bahkan bangun dan berjalan keluar kelas. Biasanya dia ikut nimbrung jika kelas
mulai dengan sahut-sahutan seperti ini. Tifa mengikuti langkah Randi dengan
matanya.
“Tuh, benerkan?” tanya Angga.
“Apanya?”
“Betahnya, sampai segitunya, biasa
aja kali, orang cuma keluar kelas kok sampai kuatir begitu. Gak bakal nyasar,
dia juga bentar lagi masuk. Bentar lagi bel, kok.”
“Apanya?” tanya Tifa mengetahui
dirinya tertangkap basah oleh Angga.
Ada yang salah di kepala Angga dan
Randi begitu pikir gadis itu terdiam.
“Apa aja deh, ngeles aja kayak bajaj.
Pulang sekolah gue mau ngajak ke kafetaria di seberang?”
“Emang ada acara apa? Gue gak mau
kalau ini berhubungan dengan kemarin, gue gak mau diinterogasi.”
“Loe kenapa Tifa, ge-er banget, emang
sejak kapan gue kepo sampai tingkat tinggi gitu?”
“Pilihannya?”
“Terima dan terima, cuma itu yang
tersedia.”
“Boleh mikir dulu, gak?”
“Gak, lagian udah bel. Tuh, denger!”
“Tapi itu ‘kan nanti pulang sekolah,
otak gue gak selemot itu lah buat bikin pertimbangan dan mutusin mau apa enggak.”
“Gak usah mikir, ini harus! Udah, tuh
Bu Linda udah masuk, gue gak mau bikin masalah.”
Angga berpindah ke bangkunya, bersamaan
dengan Randi masuk. Bu Linda memulai pelajaran dan percakapan barusan
menghilang dari kepala Tifa begitu saja.
***
SENDIRI DULU (delapan puluh)
BLOG NURLAELI UMAR- Bel terakhir
sudah berbunyi, pelajaran sudah selesai. Randi bertanya dari tempat duduknya.
“Mau bareng gak, Tif?”
Akrab, seolah kemarin bukan hal yang
perlu dipikirkan atau dipermasalahkan.
“Mau ke kafe depan sekolah. Mau
gabung?”
“Gak, gue mau langsung pulang.
Ngelesin.”
“Ngelesin? Liana?”
Randi bangkit dari duduknya dan
langsung terlihat kesal. Matanya menatap Tifa sebentar kemudian melengos pergi.
Tifa menyesal, bagaiamanpun bercandanya sedikit keterlaluan.
“Kenapa,Tif?” tanya Angga mendekat.
“Gak apa-apa, gue cuma nanya, kalau
dia ngelesin siapa?”
“Kok Randi kesal kayak gitu.”
“Mana gue tahu.” Tifa mengedikkan
bahunya, “yuk, katanya loe bakal ngajak gue ke kafetaria! Traktir ya?”
“Memang yang ada di kepala loe cuma
makanan? Loe gue perhatiin jadi aneh, terutama sejak kenal Liana.”
“Kok, gitu?”
“Loe sebelum-sebelumnya itu paling
anti ditraktir, kecuali terpaksa.”
“Virus donk dia.”
“Bukan masalah gitu, lucu aja kalau
loe berubah jadi bulet, terus pipi loe jadi cabi kuadrat. Apa nanti orang-orang
akan memanggil loe dengan sebutan Tifa Cabi? Gak kebayang.”
“Jadi gak, nih? Iya, ‘ntar gue yang
bayarin deh.”
“Becanda kali, Tif. Sensi banget,
dasar cewek!”
Mereka berdua berjalan bersisian
menuju pintu gerbang. Tapi, Tio sudah ada di depan pintu gerbang, duduk di atas
motornya dengan pandangan gak berkedip.
“Kakak? Nunggu siapa?”
“Nunggu loe lah. Siapa lagi.”
“Gue, mau ke kafetaria bareng Angga.
Ada sedikit yang perlu diomongin.”
Tifa melihat ke arah Angga yang
menjawab dengan mengangguk.
“Ya udah gue tunggu di parkiran depan
kafetaria aja.”
“Apa?” tanya Tifa kaget.
SENDIRI DULU (delapan puluh satu)
BLOG NURLAELI UMAR- “Kenapa? Loe
keberatan?”
Tifa menatap ke arah Angga, tapi
jawaban Angga di luar dugaannya. Angga menganguk menyetujuinya. Dia akhirnya
mengiyakan permintaan Tio, tapi dengan syarat: harus menunggu tanpa interupsi.
Dan lagi-lagi Tio menyetujui.
Tifa gak habis pikir, tadi pagi dua
anak lelaki di kelasnya, kali ini dua anak lelaki di depan pintu gerbang
kampus. Keduanya sama kasusnya: ada yang salah dengan otak mereka!
“Baiklah, kita jalan dulu, Kak.”
“Ya.”
Angga menganggukan kepala pamit. Tio
membalasnya dengan senyum setengah dipaksakan. Angga memegang tangan Tifa ketika
menyebrang, Tio menyaksikan semuanya dengan mata pasrah. Gak mungkin dia
melarang, karena baru saja dia mengiyakan.
“Sialan!” dengus Tio cemburu.
Sementara Tifa dan Angga masuk, Tio
melajukan motornya menyeberang memasuki pelataran parkir kafetaria. Dia gak
masuk, walau bagaiman pun dia bukan pecundang yang akan mengejar seseorang
tanpa punya harga diri, dia akan memenuhi janjinya buat nunggu.
“Mau duduk di mana?”
“Di meja sebelah sana.”
“Oke. Gue ke kasir dulu, pesan.”
Tifa mengangguk, berdiri menunggu
sebentar sampai Angga kembali. Mereka berjalan ke satu meja. Ketika Tifa
menarik kursi untuk duduk, Angga melihat ke arah Tifa. Dengan sendirinya Tifa
melihat ke arah mata Angga.
“Kenapa, Ngga. Ada yang salah atau
ada orang lain yang loe tunggu?”
“Kagak, loe bilang tadi mau duduk di
meja, kok malah narik kursi?”
“Emang nilai bahasa loe remed mulu,
ya?” balas Tifa sambil tersenyum.
Angga hanya tertawa. Pelayan
kafetaria datang membawakan pesanan, dua piring ketoprak dua gelas teh tawar.
“Makasih traktirannya, Ngga. Atau gue
mesti patungan buat bayar juga?”
“Tif, makan sedikit dulu, nanti kita
ngobrolnya sambil makan.”
“Gue rasa ada yang serius yang mau
loe omongin.”
“Iya.”
“Ada apa?”
“Ini tentang pertanyaan yang dulu loe
ajuin, tentang Liana.”
Tifa malah memilih memainkan sendok
di piringnya dengan membolak-balik ketupat dan tahu tanpa menyuap ke mulutnya.
“Kok, malah bengong?”
“Iya, maaf. Gue dengerin.”
“Gak mau nanya dulu?”
“Gue bingung mau nanya apa.”
Komentar
Posting Komentar