MONSTER PEMB (bab 51)


https://id.pinterest.com/pin/281543724247252/

 Bab  51

BLOG NURLAELI UMAR- ‘’Kita pulang ke rumah,’’ kata J sambil tetap menatao jalanan di depannya. Dia sama sekal tidak melirik ke arah M yang sedang menatap J.

‘’Kau tidak ingin melihat wajahku, J?” goda M, suaranya terdengar manja.

J terkekeh. ''Tidak, malam ini kita pulang, tapi setelah kau mandi dan kita makan malam, kita akan pergi ke apartemenku.’’

‘’Kenapa begitu?’’ tanya M sambil tetap menatap J. Matanya terlihat berbinar, itu berarti dia kan bersama J lagi. Bersama J, M merasa tenang, meski tidak bersama J pun, dia tetap ada di rumah J.

‘’Aku akan pergi mungkin menjelang tengah malam, kau akan aman di apartemen.’’

‘’Rumah kita juga aman, J. Kau sudah memasang kamera pengawas, dan sebelah rumah kita ada banyak pekerja kita.’’

‘’Tiga hari, bisa, bukan?’’ tanya J setengah meminta. Dia melirik ke arah M. M mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.

‘’Okeee …. Aku ikut apa katamu.’’ Kali ini M mengatakn itu dan kepalanya diputar ke arah depan. Jalanan ramai, tetapi M menikmatinya dengan santai. Bersama J, semua akan beres, termasuk keruwetan lalu lintas.

Benar saja setelah sampai dan mereka makan malam mereka berdua pergi menuju apartemen. J duduk di sebelah M yang memegang kemudi. Dia sibuk dengan handphonenya memastikan semua tempat usahanya dan bisnis yang J miliki memasang kamera pengawas.

J juga sepertinya menerima banyak laporan atau semacamnya, karena dia sibuk mentap layar handphone dan kemudian mengetikan jemarinya di keypad.

Mobil sudah berada di pelataran apartemen tempat J tinggal. Setelah mobil diparkirkan di dalam parkiran gedung, mereka berdua turun.

‘’Kita berbelanja dulu. Belilah beberapa yang kita perlu, lemari pendingin di roomku kosong. Aku tidak ingin kau mati kelaparan. Tapi, kalau kau memilih untuk makan di food court setiap lapar, atau memesannya tidak masalah. Aku hanya ingin memastikan kau aman  di roomku. Tiga hari kau pasti akan rindu rumah.’’

M tidak habis pikir, dia akan tinggal di apartemen J di mana di bawah semua tersedia, atau kalau malas tinggal pesan saja. Siangnya dia harus bekerja, tidak dipenjara dalam room J juga. Tetapi, M menghargai apa yang J khawatoirkan.

‘’Baiklah, aku akan masuk. Kau menunggu di sini saja?’’ tanya M sambil menunjuk ke bangku yang memang disediakan buat mereka yang menunggu yang berbelanja.

J mengangguk. Sementara M berbelanja, J sibuk dengan orang-orang yang bekerja di agensinya. Ada laporan dari anak buah J tentang tugasnya menguntit seseorang, ada laporan mengenai pelaku penembakan terhadap mobil M tadi pagi, dan adan juga yang memesan kematian.

‘’Halo!’’ J menelpon seseorang.

Sepertinya seseorang itu juga mengatakan ‘halo’ kepada J. J mengatakan malam ini dia akan menemui orang itu. J tidak menyebutkan tempat, sepertinya orang itu tahu kalau mereka akan bertemu di mana.

J menyudahi teleponnya, dia melihat M sudah selesai dan tengah mengacungkan kantung belanjanya. J mendekat dan membantu membawakan belanjaan. Mereka naik ke room milik J setelahnya.

‘’Istirahatlah! Aku benar-benar akan keluar dua jam lagi, tidak sampai tengah malan. Mungkin aku akan pulang pagi. Kau aman di sini. Kau tidur, jangan menungguku!’’ kata J setelah mereka berdua menikmati buah mangga yang M kupas.

‘’Iya, J. Aku tahu. Kau tahu kenapa aku tidak memprotesnya?’’

‘’Hmm…’’

‘’Karena, aku tahu kau punya banyak urusan. Tadi, orangmu yang koki kepala itu mengatakan kalau kau membuka cabang baru dan dia dipindahkan ke sana.’’

‘’Apa menurutmu aku harus melaporan setiap detail yang kukerjakan?’’

M mendekat dan memeluk J, ‘’Tidak, J. lakukan apa saja yang menurutmu baik. Tapi, tidak kan kuampuni kalau kau selingkuh!”

‘’Tidak, tentu saja. Aku cukup dengamu. Kau bisa pegang itu!’’

‘’Mmmm …’’ balas M sambil mengangguk-angguk dan mengeratkan pelukannya. J balas membelai rambut M lembut.



 

 

 

 

 

Komentar