MONSTER P (Bab 53)

 


Image; Image; https://id.pinterest.com/pin/15833036183688950/

Bab 53.

BLOG NURLAELI UMAR- J menikmati kopinya, dan laki-laki di depannya menikmati kudapan yang tadi diapesan. Dia menikmati kopi susu yang sudah dia pesan sebelum J datang.

‘’Bagaimana keluargamu? Anak dan istrimu?’’ tanya J di sela minum kopinya.

‘’Baik-baik saja. Semua baik, maksud saya, Bos.’’

‘’Bagaimana usaha coffee shopmu?’’

‘’Berjalan seperti yang diharapkan.’’

‘’Baguslah. Kurasa kau sudah cukup pensiun dari pekerjaan ini. Kau sudah cukup modal untuk bisa hidup normal.’’

Laki-laki di depan J tampak terkejut. Dia menatap lekat ke arah J yang duduk berhadapan dengannya. Dia sepertinya tahu hal itu akan terjadi, tapi sungguh dia tidak mengharapkannya.

‘’Saya sudah tidak diberikan pekerjaan lagi, Bos? Apa performa saya kurang bagus akhir-akhir ini?’’

‘’Apa kau sudah menjadi gila dengan banyak membunuh?’’

‘’Bukan begitu, Bos. Hanya saja saya takut mengecewakan.’’

J tersenyum. ‘’Pekerjaanmu bagus. Kau harus lebih banyak bertemu dengan keluargamu dan tidak mengambil resiko. Kalau ada masalah kabari aku. Kalau nanti ada pekerjaan, aku tetap akan memakaimu. Tapi, tidak untuk mengeksekusi lagi. Kamu paham yang kumaksudkan, bukan?’’

‘’Tentu saja.’’

Laki-laki di depan J paham apa yang J maksudkan, posisinya bergeser menjadi informan saja. Tapi, tetap saja terlhat wajah kecewa meski terlihat disamarkan. Dia tidak diberikan pekerjaan menghabisi lagi.

Orang di depan J paham, seperti perjanjian di awal, kalau semua yang masuk ke dalam agensi J ada masa pensiun dengan diberi pekerjaan hanya sebagi informan saja, dan disupport membuka usaha sendiri yang lebih aman.

J tidak merekrut orang lagi untuk pekerjaan melenyapkan nyawa. Mereka yang masuk agensinya tidak saling kenal, dan memang tidak boleh saling kenal. Tetapi, pemimpin misi akan mengenal mereka para anggotanya. Tentu saja sebatas kerja.

Hanya mereka yang satu tim dalam sebuah misi, dan tim itu memang paten, tidak pernah J izinkan untuk diacak. Mereka bekerja di bawah kendali J. Tidak membuka jati diri kepada orang lain atau bahkan sesama pekerja agensi adalah mutlak.

Bahkan, orang yang diperintahkan untuk meng-kill perempuan yang meneror M pagi tadi, tidak mengenal laki-laki di hadapan J. Hanya J yang tahu sat per satu mereka secara detail, beserta keluarga mereka. Para anggota agensi tidak bisa berkhianat, kecuali keluarganya akan menerima akibatnya.

Berkhianat kepada J berarti menyerahkan nyawa keluarga besarnya. Itu semua sepadan dengan kesejahteraan yang J berikan. J mensupport semua anggotanya dan tetap mendapatkan gaji selama masih dalam masa kerja, meskipun tidak mendapat tugas. Pun, yang pensiun mendapat dukungan dan untuk membuka usaha.

J kembali sibuk dengan hanphonenya lagi. Setelah dirasa cukup, J meletakkan uang di atas meja, ‘’Bayar kopi, sisanya ambil. Beri tips yang layak untuk pramusajinya, kopinya enak. Jaga kesehatanmu! Aku pergi sekarang.’’

Laki-laki di depan J mengangguk. Uang senilai sepuluh juta yang ditinggalkan J diambil laki-laki itu. Dia mengangguk lagi. J pergi setelahnya.

J pergi keluar meninggalkan coffee shop dan masuk ke dalam mobilnya. Sementara di waktu yang sama, perempuan yang tadi mereka bicarakan sudah tersungkur dengan tujuh tembakan. Pola tembakan yang sama, dibuat mirip pola tembakan pada korban tembakan yang tengah ramai di berita online.



Komentar