BLOG NURLAELI UMAR- J menikmati kopinya, dan
laki-laki di depannya menikmati kudapan yang tadi diapesan. Dia menikmati kopi
susu yang sudah dia pesan sebelum J datang.
‘’Bagaimana keluargamu?
Anak dan istrimu?’’ tanya J di sela minum kopinya.
‘’Baik-baik saja. Semua
baik, maksud saya, Bos.’’
‘’Bagaimana usaha coffee
shopmu?’’
‘’Berjalan seperti yang
diharapkan.’’
‘’Baguslah. Kurasa kau
sudah cukup pensiun dari pekerjaan ini. Kau sudah cukup modal untuk bisa hidup
normal.’’
Laki-laki di depan J
tampak terkejut. Dia menatap lekat ke arah J yang duduk berhadapan dengannya.
Dia sepertinya tahu hal itu akan terjadi, tapi sungguh dia tidak
mengharapkannya.
‘’Saya sudah tidak
diberikan pekerjaan lagi, Bos? Apa performa saya kurang bagus akhir-akhir
ini?’’
‘’Apa kau sudah menjadi
gila dengan banyak membunuh?’’
‘’Bukan begitu, Bos.
Hanya saja saya takut mengecewakan.’’
J tersenyum. ‘’Pekerjaanmu
bagus. Kau harus lebih banyak bertemu dengan keluargamu dan tidak mengambil
resiko. Kalau ada masalah kabari aku. Kalau nanti ada pekerjaan, aku tetap akan
memakaimu. Tapi, tidak untuk mengeksekusi lagi. Kamu paham yang kumaksudkan,
bukan?’’
‘’Tentu saja.’’
Laki-laki di depan J
paham apa yang J maksudkan, posisinya bergeser menjadi informan saja. Tapi,
tetap saja terlhat wajah kecewa meski terlihat disamarkan. Dia tidak diberikan
pekerjaan menghabisi lagi.
Orang di depan J paham,
seperti perjanjian di awal, kalau semua yang masuk ke dalam agensi J ada masa
pensiun dengan diberi pekerjaan hanya sebagi informan saja, dan disupport membuka
usaha sendiri yang lebih aman.
J tidak merekrut orang
lagi untuk pekerjaan melenyapkan nyawa. Mereka yang masuk agensinya tidak
saling kenal, dan memang tidak boleh saling kenal. Tetapi, pemimpin misi akan
mengenal mereka para anggotanya. Tentu saja sebatas kerja.
Hanya mereka yang satu
tim dalam sebuah misi, dan tim itu memang paten, tidak pernah J izinkan untuk
diacak. Mereka bekerja di bawah kendali J. Tidak membuka jati diri kepada orang
lain atau bahkan sesama pekerja agensi adalah mutlak.
Bahkan, orang yang
diperintahkan untuk meng-kill perempuan yang meneror M pagi tadi, tidak
mengenal laki-laki di hadapan J. Hanya J yang tahu sat per satu mereka secara
detail, beserta keluarga mereka. Para anggota agensi tidak bisa berkhianat,
kecuali keluarganya akan menerima akibatnya.
Berkhianat kepada J
berarti menyerahkan nyawa keluarga besarnya. Itu semua sepadan dengan
kesejahteraan yang J berikan. J mensupport semua anggotanya dan tetap
mendapatkan gaji selama masih dalam masa kerja, meskipun tidak mendapat tugas.
Pun, yang pensiun mendapat dukungan dan untuk membuka usaha.
J kembali sibuk dengan hanphonenya lagi. Setelah dirasa cukup, J meletakkan uang di atas meja, ‘’Bayar
kopi, sisanya ambil. Beri tips yang layak untuk pramusajinya, kopinya enak.
Jaga kesehatanmu! Aku pergi sekarang.’’
Laki-laki di depan J
mengangguk. Uang senilai sepuluh juta yang ditinggalkan J diambil laki-laki
itu. Dia mengangguk lagi. J pergi setelahnya.
J pergi keluar
meninggalkan coffee shop dan masuk ke dalam mobilnya. Sementara di waktu yang
sama, perempuan yang tadi mereka bicarakan sudah tersungkur dengan tujuh
tembakan. Pola tembakan yang sama, dibuat mirip pola tembakan pada korban
tembakan yang tengah ramai di berita online.
Komentar
Posting Komentar