MONSTER P
Bab 54
J kembali ke apartemen
dan mendapati M terbangun.
‘’Kau tidak tidur,
karena aku tidak menemanimu, atau kurang nyaman?’’
‘’Aku haus J. Aku juga
sedikit khawatir, meski aku tahu kau bisa menjaga dirimu.’’
‘’Kalau begitu tidurlah
kembali.’’
‘’Apa kau akan bekerja
lagi malam ini di mejamu?’’
‘’Tidak. Aku baru saja
minum kopi, mungkin aku akan duduk sebentar baru menyusulmu.’’
‘’J. tidak, J, kau tidur
di sofa saja! Kita belum menikah. Aku takut kau lupa diri.’’
J tertawa. Dia mendekat
ke arah M dan mencium kening M. ‘’Kalau begitu, cepat tentukan hari, kapan aku
harus ke rumah orang tuamu.’’
‘’Aku masih ingin
menjadu gadis sebentar lagi.’’
‘’Oke, kalau begitu
selamat tidur.’’
‘’J, ayolah, nada suaramu,
please! Jangan bersikap seolah aku kejam.’’
J memeluk tubuh M. Dia
melepaskannya dan mengangguk.
M pergi ke tempat tidur,
sementara J membersihkan diri dan kemudian sibuk dengan handphonenya lagi.
Setelah merasa cukup, J meletakkan handphoenya dan kemudian tidur di sofa.
J terbangun di pagi hari
dengan bunyi televisi dan segelas susu hangat di meja sofa temat J tidur. M
yang masih memakai baju tidurnya sepertinya sudah mandi. Dia duduk di seberang
sofa tempat J tidur.
‘’M, terima kasih
susunya. Selamat pagi!’’
‘’Pagi, J. Bangunlah
kalau sudah merasa cukup tidur. Ini memang masih terlalu pagi.’’
‘’Kenapa kau menyalakan
televisi?’’
‘’A menelponku saat aku
masih berbaring. Dia mengatan kalau S yang kemarin menemuinya mati semalam.’’
‘’S, apakah itu teman
R?’’
‘’Iya. Dia perempuan
cantik teman dekat temanmu yang sekaligus mantan tunangan A.’’
‘’Mereka sudah
memutuskan berpisah?’’
“Kurasa A yang
memutuskannya. Tapi, kenapa kau tidak terkejut, J? Bukankah kau juga kenal baik
S. Bahkan, di hari kematian L waktu itu, dia selalu berusaha mencuri
perhatianmu.’’
‘’Kenapa saat itu kau
tidak menyerangnya?’’
‘’Untuk apa? Karena cemburu? Aku tahu kau tidak akan melakukan
hal bodoh dengan meninggalkanku. Meskipun S cantik, tetapi kau bukan lelaki
seperti R.’’
‘’Kau benar, bagiamana
bisa aku meninggalkanmu.’’
“’Tapi, aku
akan selalu waspada, J. Karena hati bisa sedetik berubah.’’ J mengalihkan
pembicaraan dengan tidak menggapi apa yang M katakan.
‘’Aku turut
berduka. Dan, mungkin kita akan melayatnya nanti. Sebaiknya kaulihat jadwal
kerjamu hari ini. Aku akan bangun cuci muka, karena sebentara lagi R akan
menelponku, dan mungkin akan ada telepon yang lain yang berkaitan dengan S.
Setelahnya aku akan minum susu yang kausediakan.’’
Komentar
Posting Komentar