MONSTER P bab 54

 

Image; https://id.pinterest.com/pin/30258628744386842/

MONSTER P 

Bab 54


BLOG NURLAELI UMAR- J mengemudikan mobilnya menuju arah pulang. Dua buah laporan masuk, satu dari orang yang meninggalkan jejak tujuh tembakan, satu lagi dari orang yang baru saja J tinggalkan di coffee shop. J tidak bicara banyak, dia menjawab dua telepon masuk itu hanya dengan mengatakan ‘oke’.

J kembali ke apartemen dan mendapati M terbangun.

‘’Kau tidak tidur, karena aku tidak menemanimu, atau kurang nyaman?’’

‘’Aku haus J. Aku juga sedikit khawatir, meski aku tahu kau bisa menjaga dirimu.’’

‘’Kalau begitu tidurlah kembali.’’

‘’Apa kau akan bekerja lagi malam ini di mejamu?’’

‘’Tidak. Aku baru saja minum kopi, mungkin aku akan duduk sebentar baru menyusulmu.’’

‘’J. tidak, J, kau tidur di sofa saja! Kita belum menikah. Aku takut kau lupa diri.’’

J tertawa. Dia mendekat ke arah M dan mencium kening M. ‘’Kalau begitu, cepat tentukan hari, kapan aku harus ke rumah orang tuamu.’’

‘’Aku masih ingin menjadu gadis sebentar lagi.’’

‘’Oke, kalau begitu selamat tidur.’’

‘’J, ayolah, nada suaramu, please! Jangan bersikap seolah aku kejam.’’

J memeluk tubuh M. Dia melepaskannya dan mengangguk.

M pergi ke tempat tidur, sementara J membersihkan diri dan kemudian sibuk dengan handphonenya lagi. Setelah merasa cukup, J meletakkan handphoenya dan kemudian tidur di sofa.

J terbangun di pagi hari dengan bunyi televisi dan segelas susu hangat di meja sofa temat J tidur. M yang masih memakai baju tidurnya sepertinya sudah mandi. Dia duduk di seberang sofa tempat J tidur.

‘’M, terima kasih susunya. Selamat pagi!’’

‘’Pagi, J. Bangunlah kalau sudah merasa cukup tidur. Ini memang masih terlalu pagi.’’

‘’Kenapa kau menyalakan televisi?’’



‘’A menelponku saat aku masih berbaring. Dia mengatan kalau S yang kemarin menemuinya mati semalam.’’

‘’S, apakah itu teman R?’’

‘’Iya. Dia perempuan cantik teman dekat temanmu yang sekaligus mantan tunangan A.’’

‘’Mereka sudah memutuskan berpisah?’’

“Kurasa A yang memutuskannya. Tapi, kenapa kau tidak terkejut, J? Bukankah kau juga kenal baik S. Bahkan, di hari kematian L waktu itu, dia selalu berusaha mencuri perhatianmu.’’

‘’Kenapa saat itu kau tidak menyerangnya?’’

‘’Untuk apa? Karena  cemburu? Aku tahu kau tidak akan melakukan hal bodoh dengan meninggalkanku. Meskipun S cantik, tetapi kau bukan lelaki seperti R.’’

‘’Kau benar, bagiamana bisa aku meninggalkanmu.’’

“’Tapi, aku akan selalu waspada, J. Karena hati bisa sedetik berubah.’’ J mengalihkan pembicaraan dengan tidak menggapi apa yang M katakan.

‘’Aku turut berduka. Dan, mungkin kita akan melayatnya nanti. Sebaiknya kaulihat jadwal kerjamu hari ini. Aku akan bangun cuci muka, karena sebentara lagi R akan menelponku, dan mungkin akan ada telepon yang lain yang berkaitan dengan S. Setelahnya aku akan minum susu yang kausediakan.’’



Komentar